Ms Kim and The Alien

Just another WordPress.com site


Leave a comment

Doushite … Part 1

Image

Doushite … Part 1

Cast :

Kim JaeJoong

Song JiHye

Shim ChangMin

Genre : Romance

OST : Doushite _ DBSK

Bagiku, hidup harus disyukuri apapun yang terjadi. Meski itu bahagia ataupun duka, aku ingin mengisi hidupku dengan senyuman. Song JiHye imnida, aku baru saja lulus dari universitas Tokyo sebagai sarjana sastra Jepang.

Hari itu aku kembali dengan senyum bangga pada orangtuaku di Korea. Mereka menyambutku dengan bahagia setelah berpisah lebih dari 4 tahun. Aku menyusun banyak mimpi untuk diwujudkan disini.

Menjadi penulis adalah impianku dan aku bekerja sangat keras untuk itu. Tapi mimpi  tidak bisa selamanya jadi kenyataan. Orangtuaku adalah segalanya dalam hidupku, maka saat mereka memintaku untuk menikah dan meninggalkan impianku tidak ada banyak pilihan yang bisa kulakukan.

Di depan altar ini, di depan seorang namja yang baru saja ku kenal seminggu yang lalu aku mengucapkan sumpahku, sumpah pernikahan sekali dalam seumur hidupku. Jika kalian pikir perjodohan ini karena kontrak bisnis atau semacamnya kalian salah besar. Di balik pernikahan ini ada hal mulia yang harus ku capai dan aku berjanji semampuku untuk mewujudkannya.

Dia, Kim Jaejoong namja berwajah tampan dengan kepribadian halus. Senyumnya hangat dan ramah. Tidak ada kekurangan dalam dirinya kecuali kenyataan bahwa dia tidak bisa menyukaiku. Tidak bisa menyukai dalam arti berbeda, nanti kalian akan tau sendiri mengapa ku katakan hal seperti ini.

Kami tinggal disebuah rumah mungil yang indah dengan taman yang luas. Kim Jaejoong, suamiku sangat menyukai bunga karena itu dia membuat taman yang luas dan tidak masalah bagiku karena aku juga menyukai bunga yang berwarna warni.

Di dalam rumah ini ada ruang tamu, 2 buah kamar, sebuah ruang kerja, sebuah perpustakaan kecil, dan dapur dengan peralatan masak yang lengkap itu karena Jaejoong suka memasak.

Pagi pertama setelah pernikahan, aku bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan sebelum suamiku berangkat bekerja. Dia adalah fotografer professional untuk majalah fashion terbesar di Korea.

“selamat pagi…” sapanya begitu keluar dari kamar.

“selamat pagi, silahkan duduk. Pagi ini aku hanya sempat menyiapkan sandwich dengan sosis, aku harap kau menyukainya.”

“aku suka sandwich. Terima kasih JiHye ssi…”

“jangan memanggilku seperti itu, bagaimanapun aku adalah istrimu. Jangan bersikap formal padaku, itu membuatku tidak nyaman.”

“baiklah, maafkan aku.”

“kau akan pulang untuk makan malam?”

“hmm… tapi kau tidak perlu menyiapkan apapun. Malam ini aku akan memasak.”

“benarkah? Baiklah, aku akan menunggumu.”

“engh, dan lagi ada yang ingin kubicarakan denganmu.”

“aku tau. Hati-hati dijalan.” Aku melambaikan tangan saat dia masuk kemobil.

Dia bukan orang jahat, dia tidak pernah membenciku karena pernikahan ini. hubungan kami berjalan sangat baik sejak perkenalan pertama. Aku tau dia orang yang baik karena itu aku ingin menolongnya, melepaskannya dari belenggu perasaan yang selama ini menyakiti hati dan jiwanya.

Kim JaeJoong

Pagi ini indah, begitu juga seseorang yang menyambutku pagi ini. dia istriku, yeoja yang cantik dan pintar, memiliki senyum yang menular juga perhatian yang tulus. Aku bersyukur ada orang seperti dia disampingku tapi aku juga merasa bersalah padanya yang harus mendampingi orang sepertiku seumur hidupnya.

Aku dan segala kekuranganku yang terkutuk itu tidak akan pernah mampu membuatnya bahagia. Gadis sepertinya pantas mendapatkan kebahagiaan, tapi keegoisanku mengalahkan akal sehat. Maafkan aku JiHye ah…

“Jaejoong hyung, chukkae… tapi kenapa pengantin baru sudah bekerja? Apa kau tidak pergi bulan madu?” celoteh Changmin saat aku masuk studio pemotretan.

“kau kenapa tidak datang hah? Kau tidak lihat deadline kita? Bagaimana aku bisa bulan madu kalau chief terus menelponku.”

“mianhe hyung, aku harus mengantar eomma check up. Aishh kasian sekali kau hyung, setelah ini cepat ambil cuti dan pergilah bersama istrimu.”

“akan kupikirkan.”

“hyung…”

“oh?”

“aku yakin kau bisa memulainya dari awal, berusahalah membahagiakan istrimu.”

“bicara apa kau anak kecil, sudah sana siapkan set. Aku mau pulang awal mala mini.”

“hehehe baiklah, laksanakan !”

Changmin tersenyum padaku lalu memerintah beberapa kru untuk menyiapkan set pemotretan. Selain asisten, Changmin adalah sahabatku yang paling dekat. Tidak ada rahasia yang kusembunyikan darinya termasuk penyakit kotorku ini.

Pukul 5 sore aku tiba dirumah dan JiHye sedang menyirami bunga ditaman depan. Dia tersenyum lebar begitu melihatku datang.

“kau sudah pulang?”

“ne, kau sedang apa?”

“aku tidak punya kerjaan, jadi aku membantumu menyirami bunga-bunga cantik ini.”

“gomawo JiHye ah… ayo masuk, kau akan membantuku menyiapkan makan malam.”

“tentu saja chef.”

Aku tersenyum melihat tingkahnya yang polos. Dia wanita yang sederhana, selalu membawa keceriaan dimanapun dia berada. Changmin bahkan memujinya saat pertama kali kuperkenalkan dengan JiHye.

“kau mau memasak apa, Oppa?”

“O? enghhh kau suka pasta tidak?”

“hmm kelihatannya menarik. Ayo kita lihat seberapa ahli kau membuat pasta.”

“haha… baiklah, mala mini aku tidak akan mengecewakanmu. Ayo mulai…”

Aku merasa bahagia setiap kali berada di dapur, memasak untuk seseorang, melihat orang lain tersenyum karena masakanku itu adalah saat yang membahagiakan dalam hidupku. Tapi saat ini bukan dia yang disampingku, saat ini hanya ada JiHye istriku. Seseorang yang harus kujaga, seseorang yang kujadikan tameng untuk melupakan dia.

“otte?”

“hmm Oppa, ini hebat !!! aku bahkan tidak bisa membuat pasta seenak ini. aishh aku sangat iri padamu, bagaimana bisa kau…”

“haha benarkah seenak itu? Sudah kubilang, kau bisa jatuh cinta pada masakanku.”

“sepertinya kau berhasil. Kau harus lebih sering memasak untukku.”

“tidak masalah… “

Dia tersenyum semakin lebar, itu membuat hatiku mengembang karena bahagia bisa membuatnya tersenyum. Setelah makan malah dia menyiapkan teh hangat dan buah diruang tamu.

Song JiHye

Malam ini dia terlihat senang, aku suka melihatnya tersenyum. Aku ingin tau lebih banyak tentang dirinya, aku semakin ingin masuk dalam hidupnya yang tak banyak dimengerti oleh orang lain.

“JiHye ah…”

“Nde…”

“ada yang ingin kubicarakan denganmu, mengenai pernikahan ini.”

“katakan saja, aku akan mendengarkanmu.” Ucapku tersenyum.

“banyak hal yang ingin ku katakan padamu JiHye ah, terimakasih karena mau menerimaku, aku minta maaf karena kau terpaksa harus menikah dengan orang sepertiku. Dalam pernikahan ini aku tidak ingin memaksamu melakukan apapun, aku hanya butuh seseorang untuk berada disampingku. Aku memberikanmu kebebasan untuk melakukan hal apapun yang kau suka, aku boleh meminta apapun dariku.”

“Oppa, kau tidak perlu merasa begitu. Kau lebih baik dari yang kau pikirkan karena itu aku menerimamu. Aku akan berusaha sebaik mungkin mendampingimu, menerima apapun kekuranganmu, aku…”

“jangan jatuh cinta padaku JiHye ah…” dia memotong pembicaraanku.

“kau tau apa maksudku… aku hanya akan menyakitimu, andai aku bisa merubah yang ada dalam diriku, aku tidak ingin terlahir dengan perasaan seperti ini. aku merasa hina didepanmu, maafkan aku.”

“Oppa… kita tidak pernah terlahir sempurna, tidak ada yang bisa memilih bagaimana dia terlahir. Apapun yang ada dalam dirimu, aku ingin menerimanya, aku ingin masuk dalam hidupmu, mencoba mengerti perasaanmu. Aku ingin kau mempercayaiku sebagai tempat berbagi, aku tidak akan mengharapkan hal yang lebih aku ingin kau nyaman dan tidak merasa  tertekan dengan kondisimu.”

“JiHye ah, aku semakin merasa bersalah padamu. Aku bersumpah tidak akan membuatmu sedih selama kau bersamaku.”

“aku percaya pada oppa. kita akan menjalaninya bersama-sama, bisakah kau mempercayaiku???”

“aku memilihmu karena aku percaya padamu. Gomawo JiHye ah… tidurlah ini sudah malam.”

“kenapa aku harus tidur dikamar itu?”

“waeyo? Kau tidak suka designnya? Apa tempat tidurnya tidak nyaman?”

“bukan, aku tanya kenapa kita harus tidur dikamar terpisah seperti itu? Apa kau takut padaku?”

“tidak seperti itu. Justru aku takut kau tidak nyaman denganku.”

Aku menggelengkan kepalaku.

“hmm ya sudah, terserah kau mau tidur dimana bagiku tidak masalah selama kau merasa nyaman.”

“aku selalu bermimpi punya oppa, mungkin rasanya seperti ini ya… merasa dijaga dan diperhatikan rasanya menyenangkan.” Ucapku sebelum berlalu kekamar kami.

Kim JaeJoong

Aku harus bilang apalagi? Aku merasa buruk sebagai seorang pria, memanfaatkan gadis sebaik itu. Mulai detik ini aku berjanji pada diriku untuk membuatnya bahagia, mungkin aku tidak akan bisa mencintainya sebagai wanita tapi aku akan menyayanginya semampuku.

“jalja, oppa.” dia tersenyum sebelum menarik selimut menutupi tubuh hingga sebagian wajahnya.

Aku mengacak rambutnya gemas, aku merasa hari-hariku akan lebih mudah setelah ini.

Pagi berikutnya aku terbangun karena secangkir kopi, pagi berikutnya wangi omelette dan pagi seterusnya selalu ada hal sederhana yang membuatku tersenyum. Pertama kalinya dalam hidupku aku merasa seperti manusia normal.

“oppa, kau lupa sesuatu?” begitu setiap kali dia akan mengingatkanku jika aku melupakan kotak bekalku.

“Oppa, jangan pulang terlambat. Aku akan memasak makan malam untukmu” pesan seperti itu akan ada hampir setiap hari sebelum aku berangkat kerja.

“oppa, cepat pulang. Aku lapar, kau harus memasak untukku.” Begitu setiap kali jika sifat manjanya muncul.

“oppa, jangan letakkan pakaian kotormu sembarangan !!!! jangan masuk kerumah dengan sepatu yang kotor !!! Oppaaaaa !!!!” dia terlihat lucu saat sedang marah.

Sore ini aku baru saja pulang dari lokasi pemotretan outdoor. Aku buru-buru pulang karena JiHye menelpon. Begitu aku membuka pintu JiHye berdiri dengan senyum  mengembang seperti biasanya, dia membuatku shock karena tiba-tiba berlari memelukku.

“JiHye ah…”

“coba tebak apa yang baru saja kuterima hari ini???” dia melepas pelukannya dan menunjukkan sebuah amplop padaku.

“apa?”

“tebak isi amplop ini???”

“JiHye ah, katakana saja itu apa?? Aku tidak tau apa yang kau biacarakan?”

“ah oppa… coba tebak.”

“*sigh… surat tagihan?” dia menggeleng “surat dokter?” menggeleng lagi “surat cinta?”

“ya!!!! Salah semuaaa… oppa payah.”

“baiklah, aku menyerah. Jadi apa isi amplop itu sebenarnya???”

“ini surat dari penerbit di Jepang. Mereka akan menerbitkan buku ku !!!”

“jeongmalyo???”

Dia mengangguk dengan antusias sambil melompat-lompat memegang kedua tanganku persis seperti gadis kecil.

Untuk merayakan hari ini aku mengajaknya ke restoran favoritku, aku baru tau dia juga suka seafood. JiHye tau banyak tentang diriku tapi aku tidak pernah mengenal JiHye seutuhnya.

Pulangnya JiHye memaksa ingin jalan-jalan dipinngir sungai Han, aku tidak bisa menolaknya.

Song JiHye

Hari ini salah satu hari paling membahagiakan dalam hidupku. Usahaku selama beberapa bulan ini akhirnya membuahkan hasil. Perpustakaan kecil yang sengaja dibuat oleh Jaejoong untuk tempatku menulis, aku benar-benar memanfaatkannya dengan baik hingga buku pertamaku akhirnya akan diterbitkan di Jepang.

Jaejoong mengajakku makan diluar untuk merayakannya, pulangnya aku sangat ingin melihat pemandangan malam di pinggir sungai Han. Sudah lama aku ingin melakukan ini sejak aku pulang dari Jepang dulu. Aku bermimpi melakukannya dengan kekasihku, tapi hari ini aku disini bersama suamiku.

“ahh bukankah udaranya sangat bagus…” aku tersenyum sendiri memandang permukaan air yang tertimpa cahaya bulan, indah.

“iya, tapi bisa membuatmu masuk angin.” Gerutu Jaejoong.

“tidak akan. Setidaknya kau tidak akan membiarkanku masuk angin jadi aku tidak perlu khawatir.” Balasku.

“aishh gadis manja ini.”

“berikan tanganmu…”

“apa?”

“iihh kemarikan tanganmu.”

Aku menarik sebelah tangannya dan menggenggamnya dengan erat, menariknya untuk berjalan menyusuri pinggiran sungai. Tangannya hangat, sama seperti dirinya. Wanita manapun akan merasa iri padaku, tapi jauh dalam lubuk hatiku aku lebih iri pada mereka.

Kim JaeJoong

Andai aku bisa jatuh cinta padamu, pasti itu sudah terjadi sejak lama JiHye ah. Aku mengutuk diriku sendiri karena tidak mampu melakukannya. Apakah dosa dimasa laluku begitu besar hingga aku terlahir seperti ini.

Airmata itu menetes begitu saja saat menatap wajah polosnya yang tengah tertidur tenang disampingku. Hatiku sakit membiarkannya dalam penderitaan karenaku. Bohong jika aku tidak tau apa impian wanita seusianya. Memiliki karir, masa depan cemerlang dan laki-laki yang mencintainya tapi dia tidak bisa mendapatkan itu semua karena aku.

“oppa… kau belum tidur?”

Matanya terbuka mengagetkanku.

“oppa kau menangis? Apa yang terjadi?”

“tidak. Aku baik-baik saja.”

“oppa…”

“aku tidak ingin terlahir seperti ini JiHye ah… kenapa harus aku? Aku benci diriku sendiri, kenapa dulu aku tidak mati saja lalu hidupku berakhir dan hidupmu akan baik-baik saja.” Airmata itu semakin deras tanpa bisa ku cegah, aku begitu lemah didepan gadis ini.

Dia tidak bicara sepatah katapun, lengannya menarikku dalam pelukannya yang hangat. Mengusap lembut kepalaku, dia bersenandung pelan.

“bila kau tidak bisa mencintaiku atau wanita manapun, maka biarkan dirimu menerima sebanyak mungkin cinta dari orang lain. Dimataku kau sempurna, kau adalah kebahagiaanku. Kau adalah sebagian dari diriku, bila kau terluka maka bagaimana aku?”

Song JiHye

Aku mencintainya, jangan tanya sejak kapan rasa itu tumbuh yang ku tahu aku baru saja mennyadarinya. Aku merindukannya saat dia tidak ada, aku merasa bahagia saat melihat dia tersenyum, aku merasa sakit saat dia sedih itu semua cukup untuk membuktikan bahwa aku memang mencintainya. Aku jatuh cinta pada suamiku.

“oppa, ireona… kau bisa terlambat.”

Dia menggeliat pelan dengan bibir manyun, sungguh menggemaskan.

“sebentar lagi please…”

Aku menyingkap selimut dan beranjak keluar untuk membasuh wajahku lalu menyiapkan sarapan untuknya. Bell rumah berbunyi sepagi ini, aku segera membuka pintu.

“annyeong, noona…”

“eh… nugu?”

“Changmin imnida, kau sudah lupa padaku?”

“oh… mianhe changmin ssi. Sudah lama sekali sejak kita bertemu dulu.”

“benar juga. Maaf tidak pernah sempat mengunjungi kalian. Apakah hyung sudah bangun?”

“dia belum bangun. Dia ingin tidur sebentar lagi. Kau ingin aku membangunkannya?”

“jika tidak merepotkanmu, hari ini ada pemotretan penting. Dia tidak boleh terlambat.”

“benarkah? Sebentar, biar aku bangunkan dia dulu.”

Shim ChangMin

Ini pertama kalinya aku datang berkunjung kerumah Jaejoong hyung sejak dia menikah. Rumah ini nyaman sekali. Jihye noona membukakan pintu untukku dan agak sedikit terkejut. Kami baru sekali bertemu dan sepertinya dia lupa padaku.

……..

“jika tidak merepotkanmu, hari ini ada pemotretan penting. Dia tidak boleh terlambat.”

“benarkah? Sebentar, biar aku bangunkan dia dulu.”

Jihye noona berjalan menuju sebuah kamar, secara tidak sadar aku mengikutinya dari belakang.

“cangkamanyo changmin ssi…” ucapnya kemudian sambil masuk kekamar tanpa menutup pintunya. Aku hanya mengangguk seperti orang bodoh.

“ya! Oppa, ireona…” JiHye noona naik ke tempat tidur dan menarik selimut Jaejoong hyung.

“JiHye ya, sebentar lagi…”

“oppa… bangun atau aku akan….”

“mwoya???”

Jihye noona mencubit pipi hyung dengan gemas, lalu dia menggelitiki pinggang hyung.

“ya JiHye ya!!! Andwae… aahhh…aaaaaaa…. Araa… araaa…. Hentikan.”

Jaejoong hyung meringis menahan geli, dia paling tidak tahan bila seseorang menyentuh pinggangnya. Sekarang dia meraih kedua lengan JiHye noona dan membalik pisisinya. Sekarang hyung berada diatas noona dan wajah mereka sangat dekat. Omo~ mwoya ige??? Kenapa aku harus menonton adegan seperti ini dipagi hari -_-“

“oppa….”

“eh???”

Noona menunjuk kearah pintu, tepatnya ke arahku yang sedang berdiri canggung menatap mereka.

“shim changmin???” hyung terkejut melihatku dan segera merubah posisinya dan menarik JiHye noona berdiri.

“apa yang kau lakukan sepagi ini disini?” tanya hyung ketika kami sudah berpindah di ruang makan.

“aku menjemputmu, kalau kau tidak lupa hari ini kita punya jadwal yang penting. Sekalian juga aku ingin mengunjungi JiHye noona, sudah lama tidak bertemu dengannya.”

“chaaa.. ini sarapannya.” JiHye noona membawakan nasi goreng yang sangat wangi.

“whoa noona, wangi sekali. Boleh aku makan sekarang?”

“tentu saja, ayo makan yang banyak. Hari ini pasti kalian akan sangat sibuk kan?”

“benar sekali. Hehehe selamat makan…”

“oppa, aku sudah memasukkan vitamin dalam tasmu, jangan lupa meminumnya.”

“arasso… gomawo JiHye ah. “

“kau akan pulang untuk makan malam?”

“ahh aku belum tau, wae?”

“engh tidak apa, aku hanya bertanya.” Wajah JiHye noona sedikit berubah.

Setelah sarapan aku dan hyung berangkat menuju lokasi pemotretan, sebelum pergi aku masih memperhatikan wajah JiHye noona yang tidak begitu bersemangat.

“hyung, kau melakukan kesalahan kah?”

“apa maksudmu?”

“kenapa tadi wajah noona tiba-tiba terlihat murung? Sebelumnya dia baik-baik saja.”

“benarkah?”

“ah kau ini bagaimana. Tidak perhatian sekali dengan istrimu sendiri.”

Tiba-tiba telpon hyung berbunyi, dia memberi isyarat agar aku diam dan dia menjawab telpon dengan tampang shock.

“changmin ah, pastikan pemotretan hari ini tidak ada kesalahan karena aku ingin pulang lebih awal. Semua harus selesai sebelum jam 4. Arasso ??”

“mwo??? Hyung…”

“sebelum jam 4, Shim Changmin !!!”

“nde, arasso hyung ah.”

Kim JaeJoong

“Jae ah…. Kau akan datang untuk makan malam dirumah eomma kan?”

“nde? Makan malam?”

“tentu saja… bukankah kita akan merayakan ulang tahun JiHye.”

“ulang tahun JiHye? Hari ini?”

“Kim Jaejoong ! Jangan bilang kau tidak tau hari ini ulang tahun istrimu sendiri??? Aishh eomma tidak percaya ini ! Jae ah….”

“mianhe eomma… aku benar-benar tidak tau, mianhe.”

“ya sudahlah. Pastikan kau membawa JiHye kerumah malam ini.”

“eomma…tunda saja makan malamnya besok. Aku ingin merayakannya dengan JiHye saja malam ini.”

“mwo?? Ya terserah kau sajalah.”

Aku menghela nafas. Bahkan Changmin menyadari ada yang tidak beres, kenapa aku bahkan tidak bisa membaca wajahnya. Bodoh!

“halo… JiHye ah, kau dimana?”

“aku sedang di kantor penerbitan.”

“jam berapa kau akan pulang?”

“waeyo? Aku tidak tau.”

“engh… jangan pulang sebelum makan malam. Pipa air di rumah bocor jadi aku menyuruh orang untuk memperbaikinya jadi kau jangan pulang dulu.”

“begitu? Hmm baiklah.”

“ingat jangan pulang sebelum makan malam.”

“iya, oppa…”

Dahaengida… setidaknya aku masih punya cukup waktu untuk mempersiapkan sesuatu. Untunglah pemotretan hari ini berjalan lancar dan aku bisa segera pulang kerumah. Aku menyempatkan diri ke supermarket untuk membeli barang yang kubutuhkan mala mini.

Begitu sampai dirumah yang kubuat pertama kali adalah kue tart, kemudian sup rumput laut, dan uri JiHye yang sangat sederhana itu sangat menyukai Japchae dan Hoedeok buatanku. Setelah semuanya selesai aku mendekorasi taman depan sebagus mungkin supaya terlihat indah dengan lampu hias warna warni dan beberapa jenis bunga segar dari taman itu sendiri.

Sempurna…

Song JiHye

Hari yang melelahkan, seharian harus berdebat hanya demi sebuah cover benar-benar menyebalkan. Bukankah seharusnya hari ini aku merasa bahagia, ini tahun ke 24 ku. Tidak ada satupun ucapan yang masuk, bahkan darinya yang paling kuharapkan.

Aku menghembuskan nafas lelah memasuki halaman rumah yang gelap. Jaejoong belum pulang kurasa. Kuputuskan untuk duduk sebentar di bangku taman yang gelap …

6 bulan sudah berlalu begitu saja, tidak ada yang berubah kecuali kenyataan bahwa akhirnya aku jatuh cinta padanya. Aku wanita normal, aku membutuhkan kasih sayang, aku butuh cinta dari orang lain.

Tidak bisakah Tuhan berbaik hati memberikan sedikit keajaiban pada suamiku, ini ulang tahunku dan hanya itu permintaanku. Dalam tangisku, aku memohon pada Sang Penguasa Hati dilangit tertinggi.

Cahaya warna warni yang benderang menyilaukan pandanganku… apakah aku melihat malaikat turun untuk memenuhi permintaanku?

“saenggil chukkahamnida, saenggil chukka hamnida, saranghaneun uri Jihye, saenggil chukkahamnida…”

Aku terpesona, tak mampu mengatakan apapun selain airmataku yang terus mengalir.

“JiHye ya… selamat ulang tahun” dia menunjukkan senyum malaikatnya.

Demi Tuhan hatiku sesak melihatnya.

“JiHye ah, kau menangis? Apakah aku membuatmu terkejut? Mianhe…”

Aku tidak sanggup melihat wajahnya, aku memilih untuk berlari masuk kekamarku. Menumpahkan semua sakit ini dibalik bantal, membiarkan sesak ini lepas dari pernafasanku.

Kim JaeJoong

Omo~ dia menangis… dia tidak menjawab satupun pertanyaanku dan hanya terus menangis sambil berlari masuk kedalam rumah. Apa dia marah padaku? Aku menyusulnya masuk kedalam rumah, dia meringkuk dikamar membenamkan wajahnya dibalik bantal dengan tubuh bergetar masih menangis.

“Song JiHye…”

“berhenti disana, jangan mendekat aku mohon.” Ucapnya dengan suara bergetar.

Sepanjang satu jam dengan posisi seperti ini, dia terlihat lebih tenang dan hening memenuhi kamar ini. kuberanikan diri untuk mendekat. Dia tertidur setelah lelah menangis. Jihye ku yang malang, kesedihan yang dalam terlihat jelas diwajahnya. Apakah ini karena aku? Aku menghapus sisa-sisa airmata diwajahnya.

Song JiHye

Matahari pagi dari celah jendela yang terbuka membangunkanku pagi ini. kemarin malam aku pasti tertidur dan tidak menutup jendela, pantas tubuhku terasa hangat. Kubuka mataku perlahan. Tidak, bukan cahaya mentari pagi yang membuatku hangat tapi dia yang sedang tertidur sambil memelukku.

Wajahnya begitu dekat hingga aku bisa merasakan nafasnya yang halus menerpa wajahku. Wajah sempurna yang selalu ku kagumi, paduan antara ketampanan dan kecantikan yang menjadi satu. Aku mengangkat sebelah tanganku untuk menyentuh pipinya yang halus. Aku mengecup sekilas bibir merah mudanya, lalu bangun dari tempat tidur meraih ponsel.

“halo, In Jung ah ini aku…”

“ne, eonni. Ada apa menelponku pagi-pagi?”

“aku mau minta bantuanmu, hari ini……………………”

“oh arasso… aku akan mengaturnya dengan sempurna.”

“terima kasih In Jung. Aku akan kesana jam 9 pagi ini.”

“baiklah, aku tunggu eonni.”

Aku ingin menjadikan hari ini milikku, hanya milikku. Untuk sekali ini saja aku ingin menjadi wanita yang egois. Untuk hari ini aku ingin merasakan menjadi wanita normal.

to be continue …


Leave a comment

“XIA” The Shining Diamond Under The Mud

Xia Junsu opened his First World Tour 2012 succesfully in front of 2000 people at The Hammerstein Ballroom, New York City, USA on August 30th 2012.

Junsu, which is my favorite Korean Singer ever, proved himself through his very first full album tittled “Tarantallegra” . This is one of the successful solo album in the first term of the year 2012.

With his confidence and true talent, he created a high  quality music by himself. His good-looking face, perfect vocal and great talent are the ultimate power that can make this success become real.

Beside his everlasting lawsuit againts SME, Junsu is moving on and make a hard decision before release the full album. “This is the only way I can meet the fans” He ever said.

No one can deny the quality of Junsu as a singer. He’s chosen as the National Vocalist of Korea by the music criticus and other idols. He grows up into an idol with best quality vocal and strong acting skill in musical.

With the support from Family, Jaejoong, Yoochun and his big fans, Junsu has more powerful spirit and confidence to challenge himself to the World.

The fact that JYJ cant promote their music on TV always make me sad and upset. How they’re treated so unfair just make me angry and frustrated.

But, I believe that Jaejoong, Yoochun and Junsu can through over this matter and can fly high, even higher. As a fan, I just can support and give a lot of love for them.

Kim Jaejoong, manhi saranghae juseyo ~

Park Yoochun, manhi saranghae juseyo ~

Kim Junsu, manhi saranghae juseyo ~