Ms Kim and The Alien

Just another WordPress.com site

What If … (Part 5)

Leave a comment

What If ( Chapter 5 )

Cast : Go Eun Jae, Choi Siwon,  Park Jung Soo, Kim Yoon Na, Yesung

 

Park Jung Soo

 

Aku belum sadar sepenuhnya dari apa yang terjadi saat ini. Yang kutahu saat ini Eun Jae ada dipelukanku, tak merespon apapun yang kukatakan. Sekarang semua berkerumun disekitarku, disampingku seorang laki-laki berteriak panic ditelpon.

“Hyung, ayo segera bawa ke mobilku.” Perintahnya sambil membantuku membopong tubuh Eun Jae. Kemudian laki-laki berteriak lagi..

“Hyuk Jae hyung!!!! Aku disini.” Teriaknya sambil melambaikan tangan pada seseorang.

“Yesung, ada apa ini??” suara itu panic juga.

“Eun Jae ssi mengalami kecelakaan, ayo hyung cepat masuk dan bawa dia ke rumah sakit sekarang, aku takut kita terlambat.”

“nde…” terdengar pintu depan mobil dibanting

“Eun Jae, ayoo buka matamu sedikit.”bisikku ditelinganya, aku putus asa melihat kondisinya.

“Leeteuk hyung, kaukah itu??” Tanya suara didepan. Aku mengangkat wajah, ternyata itu Lee Hyuk Jae.

“Hyuk Jae ah, bagaimana kau bisa tau aku disini?”tanyaku.

“ini Yesung, adikku yang dari luar negri yang pernah kuceritakan Hyung. Dia teman Eun Jae. Lalu bagaimana kau juga mengenal gadis ini?”

“dia, gadis yang pernah kuceritakan padamu. Sahabat Siwon, Go Eun Jae.”

“mwo??”

Setibanya dirumah sakit aku langsung berteriak memanggil dokter dan perawat, seketika mereka datang dan membawa tubuh Eun Jae keruang UGD. Aku hanya bisa terduduk lemas disebuah bangku, Hyuk Jae disampingku.

“Hyung, tenangkan dirimu sedikit. Berdoalah semoga dia baik-baik saja” hiburnya. Lalu dia bicara pada dongsaengnya, “Yesung, kau temani hyun disini, aku akan mengurus administrasi rumah sakit.”

“ye, hyung.”jawab Yesung.

Lalu selebihnya hanya hening yang tercipta, aku dengan segala kegalauanku dan Yesung dengan lamunannya sendiri.

Akhirnya suara hp ku memecah keheningan, dari Yoon Na

“halo..”suaranya terdengar lembut.

“Yoon Na ssi..” suara ku bergetar.

“Leeteuk ah, mengapa suaramu terdengar aneh? Apa kau baik-baik saja?”

“Yoon Na ah, bisakah kau datang kerumah sakit sekarang?”

“waeyo?? Neun gwenchana??”

“Eun Jae, dia kecelakaan dan saat ini sedang diruang UGD” suaraku semakin hilang karena menahan tangis.

“Leeteuk ah, tenangkan dirimu aku akan segera kesana.”

 

Kim Yoon Na

 

Semoga saja keadaan Eun Jae tidak buruk, tapi suara Leeteuk tadi terdengar putus asa. Aku harap dia bisa mengendalikan dirinya saat ini. Tunggulah sebentar lagi aku akan datang menemanimu. Lalu kemudian terpikir olehku untuk menelpon Siwon, aku segera menghubungi nomor yang diberikannya kemarin padaku.

“ye noona, ada apa kau menelpon?”

“siwon ah, hari ini Eun Jae ssi mengalami kecelakaan. Saat ini dia ada dirumah sakit dan belum keluar dari UGD.”

“ya!! Noona, cara seperti itu sungguh keterlaluan untuk membuatku pulang kerumah.”

“mianhe, Siwon ah. Tapi aku tidak sedang berusaha membohongimu.” Tidak ada respon dari Siwon. “Siwon ah !! apa kau masih mendengarku?? Siwon ah !!” aku menyerah, akhirnya aku matikan sambungan itu dan bergegas turun dari mobil menemui Leeteuk.

Dari ujung koridor aku bisa melihat Leeteuk duduk memandangi lantai dibawahnya, aku bergegas mempercepat langkah. Saat ini aku hanya ingin membuatnya nyaman dan tenang.

“Leeteuk ah, apa semua baik-baik saja?”

“tidak pernah baik-baik saja, Yoon Na.”

“Leeteuk ah jangan bicara seperti itu, ini semua bukan salahmu”.

Dokter DongHae lalu keluar menghampiri kami, Leeteuk ssi berdiri tegak tanpa expresi. Aku memegangi tangannya agar dia bisa menahan diri.

“bagaimana keadaannya dokter” tanyaku lebih dulu.

“kami sudah berusaha yang terbaik untuk menyelamatkan nyawanya. Tapi keadaanya saat ini sangat buruk. Berdoalah agar dy bisa melewati masa kritisnya.”

“lalu luka-lukanya bagaimana?”lanjutku.

“semua akan kami cek kembali setelah dy melewati masa kritisnya. Saat ini keadaannya sangat rentan.”

“terima kasih dokter DongHae”.

Aku menarik Leeteuk untuk duduk kembali, aku tak ingin melepaskan tangan ini. Saat menggenggam tanganya seperti ini aku bisa merasakan luapan perasaannya, kesedihannya, penderitaan batinnya. Hanya dengan cara ini aku ingin ikut masuk kedalam batinnya dan berbagi duka itu agar hatinya lebih tenang.

Malam harinya aku mengantarkan Leeteuk kerumahnya, saat sampai dikamarnya tubuh itu meluruh ke lantai. Aku berteriak panic.

“Leeteuk ah !! kau kenapa?? Ahjumaaa, tolong akuuu…”

Tak lama ibunya datang dan membantuku merebahkan tubuhnya ketempat tidur. Tak sadar tanganku gemetar saat menyentuh wajah pucatnya. Sepanjang malam dia  mengigau dan panas badannya tinggi.

“siwon ahh bodoh !! melindungi orang yang kau cintai adalah hal yang harusnya kau lakukan bukan malah meninggalkannya. Kau bodoh sekali Siwon ahh” hanya itu yang diucapkannya.

 

Choi Siwon

 

Perlahan aku berjalan menyusuri koridor itu, semakin dekat mengapa semakin terasa sakit. Go Eun Jae, aku memang merindukanmu setengah mati tapi aku tidak mau bertemu denganmu dalam keadaan seperti ini. Aku berdiri didepan pintu kamar itu, hanya bisa melihatnya dari kaca membuatku semakin hancur. Aku ingin masuk dan memeluknya. Dasar Eun Jae bodoh! Kau bilang akan bahagia setelah aku pergi tapi mengapa kau tak menjaga dirimu dengan baik.

Aku mendengar langkah kaki lain mendekat, segera kuhapus airmataku dan pergi dari depan pintu kamar itu.

 

Yesung

 

Aku baru saja kembali dari kantin rumah sakit saat kulihat ada seseorang berdiri didepan kamar Eun Jae. Seorang laki-laki dan dia sedang menangis kurasa. Begitu mendengar kedatanganku dia langsung pergi. Siapa ya? Tapi dari penampilannya sangat tidak asing…

“Yesung ah, kenapa kau berdiri seperti itu?”Hyuk Jae hyung menepuk bahuku.

“tadi aku melihat seseorang didepan pintu ini.”

“benarkah? Siapa?”

“aku tidak tau, tadi begitu menyadari kedatanganku dia bergegas pergi.”

“hmm Leeteuk kah?”

“sepertinya bukan, dia sudah pulang bersama Yoon Na noona tadi. Sepertinya keadaannya mengenaskan sekali hyung. Sebenarnya apa sih hubungannya dengan Eun Jae?”

“hubungan mereka rumit sekali, tapi Eun Jae bagi Leeteuk seperti pengganti saudara laki-lakinya yang pergi. Jadi dia sangat terpukul takut kehilangan yang sama dua kali.”

Aku mengangguk mendengar penjelasan hyung. Bisa kulihat dari reaksi Leeteuk hyung hari ini betapa dia tersiksa karena khawatir.

 

Park Jung Soo

 

Aku tak tau sudah tertidur berapa lama, tapi saat aku bangun matahari sudah bersinar terang menembus tirai kamarku. Kepalaku berat sekali rasanya, mataku masih agak kabur. Aku menegakkan tubuhku tapi seperti ada yang menahannya. Ku maksimalkan penglihatanku, itu Yoon Na sedang tertidur disisi tempat tidurku menggenggam tanganku cukup erat sampai sulit kuuraikan. Perlahan ku lepaskan tangannya dan bangkit dari tempat tidurku. Tenaga ku memang belum terkumpul tapi pelan aku menaikkannya ketempat tidur dan menarik selimut menutupi tubuhnya.

“Yoon Na ah, istirahatlah sebentar. Terima kasih sudah menjagaku.” Ku kecup keningnya sekilas.

Saat aku bersiap mengeluarkan mobil, ibu memergokiku.

“Jung Soo, mau kemana kau?”

“aku harus mengecek keadaan Eun Jae, Bu”

“ya!! Kau belum pulih,sayang. Tunggulah sampai badanmu itu benar-benar kuat. Tolong dengarkan ibu kali ini. Kau boleh khawatir pada Eun Jae, tapi ibu juga berhak khawatir pada keadaan anaknya.”

Aku terdiam, ibu benar. Akhir-akhir ini aku selalu membuat ibu cemas dan khawatir dengan kondisiku. Aku menghampiri ibu dan memeluknya, airmataku jatuh. Sudah lama sekali aku tidak menangis dalam pelukannya seperti ini.

“mianhe omma, aku tidak ingin kau sedih karena aku. Aku mencintaimu, Ibu.”

 

Kim Yoon Na

 

“aku mencintaimu,….”

Airmataku jatuh juga, aku telah melihat seorang Park Jung Soo dan segala kelebihan serta kelemahannya. Dia yang senyumnya telah membuatku takluk, suaranya yang telah membuatku susah tidur dan matanya yang muncul dipikiranku setiap saat, hari ini aku mengerti semua rasa ini adalah cinta, lebih dari itu aku telah jatuh cinta sejak lama tapi hari ini aku mengerti rasa cinta itu begitu dalam. Aku ingin jadi satu-satunya yang selalu ada disampingnya.

“Yoon Na ah, sejak kapan kau berdiri disitu?”

“hm aku baru saja bangun. Maafkan aku karena tertidur.”

“ya!! Harusnya kau beristirahat lebih lama. Pasti kau sangat lelah sejak kemarin.”

“aku tidak apa-apa. Kau yang harus dikhawatirkan”

“aku merasa tidak berguna sekali karena dua orang wanita menjagaku, harusnya aku yang menjaga kalian”

“hey, apa kau mau jalan-jalan keluar sebentar?”tanyaku.

“kau mau kemana?”

“mencari udara segar ditaman.”

“baiklah, ayo kita pergi”

“hati-hati ya…” ahjussi mengingatkan kami.

Kami berjalan menyusuri trotoar menuju taman didekat rumah Leeteuk, sesekali aku melirik kearahnya. Wajahnya masih terlihat pucat tapi lebih baik dari kemarin. Aku tanpa sadar tersenyum dan disaat yang sama dia melihat kearahku.

“mwoyo??”

“anio. Kau terlihat lebih baik.”

“apa aku terlihat lebih tampan?” tanyanya spontan sambil tersenyum.

Aku mengangguk sambil tersenyum.

“Aku memang pria tertampan diantara para ahjumma” sekarang dia malah tergelak.

Demi Tuhan aku ingin melihatnya tersenyum seperti itu saja, jangan lagi ada penderitaan diwajahnya. Aku menghentikan langkahku.

“Leeteuk ah, maukah kau mengijinkanku untuk selalu ada disampingmu?” tanyaku.

 

Park Jung Soo

 

“maukah kau mengijinkanku untuk selalu ada disampingmu?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutnya,membuatku kaget setengah mati. Aku harus bilang apa?

“mwo??”

“aku ingin jadi satu-satunya yang ada disampingmu, menjadi tempat sandaranmu saat kau bimbang, tempat kau membagi bahagia dan dukamu?” jelasnya.

“Yoon Na ah, apa yang kau maksud?” tanyaku gugup.

“aku mencintaimu, Leeteuk ah.” Jawabnya tenang.

Aku hanya bisa terdiam mendengar pengakuan itu, tidak pernah terlintas dalam pikiranku bahwa gadis yang kucintai malah mengungkapkan perasaannya terlebih dulu padaku.

“Yoon Na ah, apakah kau baru saja mengatakan kau mencintaiku? Sejak kapan?”

“Sejak aku sering melihatmu kerumah Siwon, mendengarkan music lewat headphone sambil tersenyum duduk diteras. Aku mencintaimu saat kau menyebutkan namamu ketika kita pertama kali berkenalan. Aku semakin mencintaimu setelah melihat airmata mu untuk orang yang kau sayangi. Aku hanya tau bahwa aku mencintaimu, dan rasanya aku mulai lupa kapan cinta ini dimulai.”

 

Aku mulai speechless, apa yang harus kukatakan pada gadis ini? Aku berani bertaruh pasti saat ini wajahku sudah memerah, biarpun disekolah aku disegani tapi untuk masalah seperti ini aku bukan ahlinya. Jadilah saat ini aku berdiri kaku menatap Yoon Na seperti orang bodoh.

“Leeteuk ah, apa yang sedang kau pikirkan?”

“aku berpikir kenapa bisa kejadiannya terbalik seperti ini?”

“terbalik?”

“kenapa kau yang menyatakan isi hatimu padaku? Bukankah harusnya pria yang melakukan itu?”

“apakah aku kelihatan tidak punya harga diri karena menyatakan perasaanku lebih dulu yang seorang pria?”

“tidak. Bukan itu maksudku. Maaf kalau kau malah berpikir begitu, tapi aku hanya terkejut pada keberanianmu.”

“lalu apa kau akan menjawab pertanyaanku? Sudah setengah jam kita berdiri seperti ini.”

“Yoon Na ah, aku tidak bisa menjanjikan kebahagiaan padamu jika berada disampingku. Tapi jika kau mau memberi aku kesempatan untuk membuatmu tersenyum setiap hari maka aku akan mengijinkanmu berada disisiku.”

Lalu tiba-tiba Yoon Na memegangi wajahku dengan kedua tangannya, aku shock.

“Leeteuk ah, kau ini lucu sekali…” dia lalu mencubit sebelah pipiku lalu menggandeng tanganku menyusuri taman. Sekali lagi dia mengejutkanku J

 

Choi Siwon

 

Pagi ini aku sadar juga dari mimpi buruk yang terus menghantuiku sepanjang malam. Aku bangkit dari tempat tidur dan meraih hpku.

“yeoboseyo…”

“Siwon ah, kau menelpon” jawab Yoon Na noona senang.

“noona, aku sudah melihatnya. Dia pasti sekarang sedang kesakitan, aku tidak bisa menemaninya disana, menjaganya.”

“kenapa kau tidak datang saja dan menjaganya?”

“aku takut dy akan tambah sakit bila melihatku.”

“bicara bodoh apa kau ini, Siwon ah. Sekali saja tolong dengarkan aku, dia saat ini membutuhkan sahabat dan orang yang mencintainya berada disisinya, memberinya alasan untuk bertahan hidup.”

“noona,bisakah kau melakukan sesuatu untukku?”

“apa?”

“aku meninggalkan surat didepan rumahku, ambillah surat itu dan bacakan untuk Eun Jae.”

“baiklah. Tapi kau harus berjanji padaku, kau akan datang menjenguknya?”

“aku pasti akan datang…”

 

Aku menutup telponnya, menatap keluar jendela apartemenku. Tempat ini sudah jadi persembunyianku selama 3 bulan ini. Disini semua kesakitan, kepedihan dan keputusasaan kutumpahkan. Tiada seharipun kulewatkan tanpa mimpi buruk. Kini hatiku terasa lebih sakit, aku meraih gitar yang kusandarkan disudut ruangan itu.

Berapa banyak lagu cinta yang tercipta selama masa pelarian ini, hanya aku,gitar ini dan kenangan bersamanya. Penyesalan yang tiada ujungnya, dan bahkan semakin hari membunuhku perlahan.

 

 

Park Jung Soo

 

“ada apa?”

“oh bukan apa-apa. Hm Leeteuk ah, aku harus kembali sebentar kerumah.”

“apakah terjadi sesuatu?”

“tidak ada apa-apa. Tapi ibu menelpon dan memintaku pulang sebentar karena dy lupa meletakkan sesuatu dan memintaku membantunya mencarikan barang itu.”

“baiklah, biar aku yang mengantarkanmu.”

“tidak usah. Kau istirahat saja, nanti sore aku akan menjemputmu dan kita melihat keadaan EunJae.”

“hmm baiklah. Hati-hati dijalan.”

 

Yesung

 

Setelah makan siang aku kembali kerumah sakit melihat keadaan Eun Jae, ternyata disana ada keluarganya yang menungguinya sejak tadi malam. Aku lalu menyuruh mereka pulang untuk istirahat dan menggantikan mereka menjaga Eun Jae. Sang ibu yang sebenarnya keberatan akhirnya mau pulang juga. Kasian wanita itu, dia tak henti menangis aku jadi tidak tega.

Aku masuk kedalam kamar Eun Jae. Gadis itu belum juga menunjukkan tanda-tanda akan sadar atau bereaksi. Aku merasa kasian melihat keadaannya saat ini, sekaligus ada rasa bersalah dalam hatiku karena saat itu tak bisa lebih cepat menolongnya.

“oh ada kau rupanya…”

“iya,dokter. Anda ingin memeriksanya?”

“iya, mungkin kau bisa keluar dulu sebentar?”

“baik,dokter.”

Aku keluar dari kamar itu dan membiarkan dokter memeriksa kondisinya. Setelah sekitar 15 menit dokter DongHae keluar.

“apakah ada kemajuan?”

“sayang sekali belum ada perubahan apa-apa. Dia masih berjuang dengan keadaan kritisnya.”

“begitukah” aku hanya bisa mengangguk lemah. Sang dokterpun berlalu.

 

Kim Yoon Na

 

Pukul 3 sore aku kembali kerumah sakit bersama Leeteuk. Disana ada Yesung yang sedang membaca sebuah buku disisi tempat tidur.

“Annyeong, Yesung ssi..”

“ohh annyeong noona,hyung. Kalian sudah datang?”

“iya, bagaimana kondisi Eun Jae?”Leeteuk bertanya.

“kata dokter belum ada kemajuan,hyung.”

Sementara Yesung dan Leeteuk bicara aku mendekat kesisi tempat tidur mengeluarkan surat dari Siwon yang tadi kuambil dari depan rumahnya. Aku sendiri belum membukanya, kusobek pinggiran amplop itu dan mengeluarkan selembar surat.

“Eun Jae ssi, aku Kim Yoon Na. mungkin kau tidak begitu mengenalku, tapi aku mengenalmu dari Siwon. Dia tetanggaku yang paling ramah dan baik hati, aku yakin kau pun tau itu kan.”aku tersenyum padanya meski dia tidak melihat.

“aku membawa surat dari Siwon untukmu. Aku akan membacakannya sekali saja jadi kau tolong dengar dan perhatikan dengan baik ya…”

“Untuk Go Eun Jae,

Ini aku Siwon, bagaimana keadaanmu saat ini? Apa kau sudah bangun? Jika belum maka cepatlah bangun karena dunia sepi sekali tanpa ocehan dan suara tawamu yang fals itu.

Ya! Go Eun Jae, bila kau tidak bangun juga aku akan mendatangimu dan menggelitikimu sampai kau bangun.

Go Eun Jae babo, bagaimana kau bisa melukai dirimu sendiri. Kau bohong  padaku juga, katamu kau akan bahagia bila aku sudah pergi dari hadapanmu tapi bagaimana sekarang? Kau sekarang malah lebih kesakitan.

Go Eun Jae, maafkan aku karena tidak bisa menjadi sahabat yang  baik bagimu, aku hanya bisa mengecewakanmu. Tapi aku hanya ingin kau bahagia meski harus hati dan jiwaku yang kukorbankan.

apakah sekarang aku harus menutup mataku agar kau mau membuka matamu? Jika begitu maka akan kulakukan, tapi kau harus berjanji setelah kau membuka mata jangan lagi membuat orang-orang khawatir padamu. Apa kau tidak tahu bagaimana ahjuma sangat khawatir padamu, apa yang bisa dia lakukan bila kau tidak ada hah?? Babo !!

Eun Jae ah apa kau masih ingat permintaan terakhir kali kita melihat bintang jatuh? Kau akan lulus dari SMA dan menjadi designer terkenal,juga membuat Park Jung Soo hyung jatuh cinta padamu kan??? Sekarang bagaimana semuanya bisa jadi kenyataan bila kau bermalas-malasan ditempat tidur seperti itu.

Eun Jae, aku mohon padamu jangan menyiksaku seperti ini? Apa hukuman yang kau berikan padaku belum cukup menghancurkanku? Sekarang aku mohon bangunlah Eun Jae ah … Aku Mohon Padamu Buka Matamu”

 

Aku menggenggam surat itu, berpikir apakah semua ini akan ada gunanya? Go Eun Jae ssi, apakah kau tidak mengerti betapa Siwon mencintaimu?

“Yoon Na ah, darimana kau dapatkan surat itu? Apa Siwon memberikannya padamu? Apakah dia datang kerumahmu?” leeteuk merebut surat itu dari tanganku.

Leeteuk menanyaiku tanpa jeda, membuatku bingung bagaimana harus menjawabnya.

“Leeteuk ah, tenanglah sedikit. Surat ini diantar oleh seseorang kerumahku tadi pagi sebelum aku pulang kerumah. Jadi aku tidak tau sapa yang mengantarkannya, tapi yang pasti bukan Siwon ah yang mengantarkannya karena ibuku pasti akan mengenalinya.

“benarkah? Kau tidak bohong padaku?”

Aku mengangguk,maafkan aku Leeteuk ah, tapi aku sudah berjanji pada Siwon untuk merahasiakan ini darimu.

 

Park Jung Soo

 

Aku langsung merebut surat yang ada ditangan Yoon Na, tulisan yang kukenal dengan baik itu dari Siwon dan ditulis untuk Eun Jae. Berarti dia sudah tau kondisi Eun Jae saat ini tapi kenapa dia masih tidak mau kembali menampakkan diri? Siwon ah apa yang kau pikirkan  sebenarnya. Orang yang sangat kau cintai saat ini sedang berjuang untuk hidupnya sementara kau memilih diam dipersembunyianmu.

“Leeteuk hyung, coba lihat itu…” suara Yesung mengagetkanku.

Dia menunjuk kearah Eun Jae, demi Tuhan aku melihatnya. Airmata itu turun perlahan disudut matanya. Dia menangis.

“Yesung ah, cepat kau panggil dokter.”perintahku.

“Eun Jae ah, apa kau mendengarku? Kau menangis karena surat dari Siwon kah?”aku mencoba bicara padanya sambil menggenggam tangannya. Lalu kemudian dokter datang dan memeriksa keadaannya.

“ini agak bagus. Keadaannya lebih baik dan dia melewati masa kritisnya dengan baik. Teruslah mengajaknya berkomunikasi tentang hal-hal yang disukainya.”

“baik dokter. Terima kasih.” Ucapku. Itu hal pertama yang bisa kuucapkan dengan tenang sejak beberapa hari lalu. Yoon Na tersenyum padaku, membuatku merasa lebih nyaman.

Keesokan harinya aku kembali kerumah sakit agak siang. Saat aku tiba disana kulihat kedua orang tua Eun Jae sudah ada disana sedang bicara dengan dokter. Setelah sang dokter berlalu wajah ibu Eun Jae terlihat shock dan sangat terpukul.

Aku mengurungkan niatku menghampiri mereka tapi langsung menuju ruang dokter dan menanyakan apa yang membuat orangtua Eun Jae begitu shock tadi.

“dokter, tolong jelaskan padaku apa yang terjadi?”

“Eun Jae ssi mengalami kecelakaan yang sangat fatal. Berdasarkan pemeriksaan terakhir kami tadi pagi diketahui bahwa kaki kirinya mengalami keretakan tulang di 3 titik berbeda yang tidak memungkinkannya untuk bisa berjalan selama beberapa waktu. Tapi hal yang paling buruk adalah saat kecelakaan kami harus menjahit beberapa bagian wajahnya yang terkena pecahan kaca dan ternyata ada serpihan kaca yang mengenai matanya dan merusak kornea matanya sehingga menyebabkan kebutaan.”

“…” aku hanya bisa membeku dikursiku saat itu. Semua keterangan dokter seperti pisau tajam yang ditancapkan kejantungku. Aku tidak tau harus berkata atau bersikap bagaimana. Tanpa berkata apa-apa aku keluar dari ruang dokter dan berjalan menuju kamar Eun Jae. Sampai didepan pintu kamarnya aku bisa mendengar isak tangis ibunya, sangat menyesakkanku.

“Yoon Na ah, kau ada dimana?”

“aku sedang dalam perjalanan kerumah sakit. Kau?”

“aku sudah dirumah sakit. Nanti temui aku ditaman rumah sakit saja.”

“baiklah. Sampai ketemu disana.”

10 menit kemudian Yoon Na datang menghampiriku bangku taman rumah sakit.

“kau sudah lama menunggu?”

“tidak juga. Aku tadi menemui dokter.”

“benarkah? Lalu apa kata dokter tentang keadaan Eun Jae ssi?”

“dia mengalami keretakan tulang parah dan…”

“dan apa?”

“dia juga kehilangan penglihatannya”

“apa?”Yoon Na terlihat shock sesaat lalu berubah tenang lagi dan menatapku.

“Leeteuk ah, bukan salah siapapun jika semua jadi begini. Sekarang kau tegarlah untuk Eun Jae. Mengerti?”

“bisakah aku tegar menghadapinya nanti? Aku tidak tau harus bagaimana bicara padanya. Apa yang bisa aku lakukan untuknya,aku tidak tau.”

“kau bisa melakukannya. Bukankah aku ada disampingmu? Apa kau sudah lupa?”

“Yoon Na ah, terima kasih sudah ada disampingku.”

 

Kim Yoon Na

 

Aku sangat shock saat mendengar keterangan Leeteuk tentang kondisi Eun Jae, tapi aku harus tetap tenang saat ini. Aku tidak ingin melihat Leeteuk tertekan lagi, aku akan selalu memberinya semangat agar dia tidak terpuruk lagi dalam rasa bersalahnya.

Segera setelah tiba dirumah aku langsung menghubungi Siwon.

“Yeoboseyo…”

“Siwon ah ini aku…”

“Ye Noona. Ada apa?”

“Siwon ah, aku hanya ingin mengabari kondisi Eun Jae saat ini. Keadaannya sangat buruk, dia membutuhkanmu untuk menguatkannya saat dia sadar nanti.”

“Noona, sebenarnya bagaimana kondisinya?”

“dia tidak akan bisa berjalan selama beberapa waktu, dan dia akan mengalami kebutaan total. Siwon ah, mengertilah bahwa dia membutuhkanmu. Apa kau tau setelah mendengar suratmu waktu itu keadaannya membaik bahkan dia menangis.”

“Noona, semua ini salahku.”

“kenapa kau dan Leeteuk hanya bisa menyalahkan diri kalian? Tidakkah kalian bisa berpikir tentang bagaimana perasaan Eun Jae saat dia sadar nanti? Siwon ah, setidaknya kau ada disampingnya saat dia sadar nanti dan memberinya semangat. Bukankah kau sangat mencintainya? Lalu apa kau tega membiarkan orang yang kau cintai menderita sendirian dank au hanya menyesali diri dipersembunyianmu?”

“Noona, maafkan aku. Aku memang sudah bersikap kekanakan dan mementingkan perasaanku sendiri. Tapi saat ini aku benar-benar takut melihatnya, aku tidak akan tahan melihatnya menderita.”

“Siwon ah, pulanglah. Kita akan menghadapinya bersama jadi kau jangan takut.”

“Noona, aku akan pulang. Aku pasti akan pulang secepatnya.”

“aku akan menunggumu. Jaga dirimu.”

 

Choi Siwon

 

Aku bergegas mengemasi barang-barangku dan pulang kerumah. Selama perjalanan aku hanya tidur. Aku tidak ingin memikirkan apa yang akan kuhadapi nanti, aku tidak ingin berubah pikiran dan menjadi penakut lagi. Eun Jae, aku akan kembali untukmu, meski nanti kau menolak kehadiranku tapi aku tidak akan berhenti menjagamu.

Saat tiba didepan rumah aku langsung menuju rumah Yoon Na noona. Untunglah dia masih dirumah dan belum tidur karena waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam saaat aku tiba.

“Siwon ah!! Kau pulang” dia berseru dan langsung memelukku.

“Yoon Na noona, kau baik-baik saja kan?”

“tentu, aku baik. Kau lah yang harus dikhawatirkan. Bagaimana keadaanmu? Apa kau hidup dengan baik selama ini?”

“tidak begitu baik Noona, tapi setidaknya aku masih ingin hidup.”jawabku.

“ahh kau ini. Ayo masuklah. Lebih baik kau menginap disini saja, rumahmu pasti berantakan karena ditinggal begitu lama.”

“hmm baiklah.”

“apa kau sudah makan? Hey apa sebaiknya aku menelpon Leeteuk?”

“Noona, tidak perlu sekarang. Besok saja kita kerumah Hyung. Aku juga kangen padanya, tapi sekarang pasti dia sedang istirahat.”

“kau ini tidak berubah, terus saja mengkhawatirkan orang lain.”

Senang rasanya melihat Yoon Na noona lagi, setelah sekian lama. Setelah menunjukkan kamarku dia segera meninggalkanku agar aku bisa istirahat.

“Siwon ah, terima kasih telah mau kembali.”ucapnya sebelum menutup pintu sambil tersenyum penuh arti.

Besok paginya aku dan Yoon Na noona berangkat menuju rumah Leeteuk hyung. Perasaanku tidak karuan saat itu. Aku takut tapi juga bahagia karena akan bertemu dengannya karena aku merindukannnya setengah mati.

Sesampainya disana Yoon Na menyuruhku tetap dimobil sampai dia menyuruhku keluar. Aku hanya mengintip dari kaca mobil saat kulihat hyung membukakan pintu dan memeluk noona sekilas lalu mereka entah bicara apa…

 

Park Jung Soo

 

Aku baru saja selesai mandi saat kudengar bel berbunyi. Aku segera membukakan pintu, tentu saja itu Yoon Na ku yang ada didepanku.

“selamat pagi J “ dia menyapaku dan memelukku sekilas seperti biasa.

“pagi… aku baru saja selesai mandi. Apa kau sudah sarapan?”

“wah sayang sekali kau sudah selesai mandi ya, padahal tadi aku berniat mengintip.” Godanya.

“kau ini !! hehe..”

“hey aku membawakan kejutan untukmu.”

“kejutan? Dipagi hari begini kau sudah ingin memberiku kejutan? Aku jadi penasaran”

“siapkan dirimu karena kejutan ini terlalu mengejutkan.”

“hmm baiklah ayo cepat aku jadi tidak sabar.”

“ya!!! Kau yang di mobil cepat keluar”tiba-tiba dia berteriak kearah mobilnya, kupikir tadi dia kesini sendiri.

Lalu aku berhenti tersenyum saat melihat siapa yang keluar dari mobil. Dia berjalan dengan sangat pelan padahal jarak dari mobil begitu dekat, dasar kau memang bodoh! Siwon Ah. Dia sekarang berdiri didepanku diam mematung sambil menundukkan kepala. Aku pun sebenarnya bingung apa yang akan aku lakukan padanya saat ini. Aku ingin marah tapi aku terlalu bahagia bisa melihatnya lagi jadi kuputuskan untuk memukul kepalanya yang tertunduk itu dengan keras.

“dasar bodoh!!”

Dia lalu meringis memegangi kepalanya tapi tidak berani mengangkat kepalanya, Yoon Na pun hanya melihat sambil menahan tawa. Aku tau dia bisa menebak isi kepalaku saat ini.

“pulang tapi tidak membawakanku oleh-oleh. Kau ini memang bodoh Siwon ah. Bahkan saat datang tidak langsung memelukku? Memangnya kau tidak merindukanku,huh??”

“Hyung maafkan aku ya, aku terburu-buru pulang sehingga lupa membawakanmu sesuatu”dia lalu menghambur memelukku. Aku hanya bisa balas memeluknya dengan erat,tapi airmataku jatuh juga. Aku jadi malu pada Yoon Na dan cepat-cepat menghapusnya. Tapi sudah terlanjur dia melihatnya dan dia menertawakanku dibelakang Siwon.

Siang harinya kami bertiga berangkat kerumah sakit karena aku mendapat telpon bahwa Eun Jae sudah sadar. Aku gugup sebenarnya, tapi ada Yoon Na dan Siwon disampingku member kekuatan.

 

Go Eun Jae

 

Semua terasa sakit, seluruh tubuhku sulit bergerak bahkan untuk membuka mata saja aku tidak mampu. Apa yang sudah terjadi selama aku tidak sadar dan berapa lama waktu yang sudah kulewatkan? Hari ini aku sadar dan mendengar suara orangtuaku lagi untuk pertama kalinya. Aku bahagia tapi tidak bisa mengatakannya karena rasanya bibirku sulit terbuka jadi aku hanya bisa  berbisik pada mereka.

Ibu tak hentinya menangis, entah kenapa aku tidak tau karena saat ini kedua mataku diperban jadi tidak ada yang bisa kulihat. Lalu kudengar ada suara lain yang sepertinya baru datang, suara wanita dan sepertinya tidak asing.

“annyeonk ahjuma,ahjussi. Bagaimana kabar kalian?”sapanya pada orangtuaku.

“Yoon Na ah, kalian sudah datang. Kami baik-baik saja.”

“baguslah kalau begitu. Ahjussi sebaiknya bawa ahjuma pulang untuk istirahat, biar kami yang menjaga Eun Jae.”

“terima kasih Yoon Na ah, kalian telah begitu baik. Eun Jae ah, ini Yoon Na ah dia yang selama ini membantu menjagamu. Kami pulang dulu dan akan kembali nanti malam. Jaga dirimu.”

Aku mendengar suara ayah dan mengangguk patuh.

“annyeonk eonni.”

“hai, aku Kim Yoon Na. kita baru berkenalan saat ini.”

“Go Eun Jae imnida. Eonni sepertinya suaramu terdengar tidak asing.”

“benarkah? Mungkin karena selama kau tidak sadar aku terlalu banyak bicara hehe”

“eonni, sepertinya tdi kudengar kau tidak datang sendiri.”

“iya aku datang ditemani 2 orang, keduanya orang yang sangat mengkhawatirkanmu. Tapi entah mengapa mereka jadi diam tidak mau bicara sekarang.”

“jinjja? Siapa mereka?”

“ini aku Eun Jae ah.”sahut satu suara.

“Park Jung Soo oppa, itu kau?”

“ya ini aku. Apa kau baik-baik saja?”

“bagaimana kau ada disini?”aku benar terkejut.

“apa kau lupa bahwa dia yang membawamu kerumah sakit seperti orang gila?”Yoon Na eonni menyahut.

“aku tidak mengingatnya dengan baik. Tapi terima kasih telah menolongku. Lalu siapa lagi yang bersamamu,eonni?”

Tidak ada sahutan, tapi seseorang memegang sebelah tanganku dan sebelah lagi menyentuh pipiku. Aku kenal sentuhan ini, apakah mungkin?

“Siwon ah, itu kau?”

Dia hanya diam, aku yakin itu pasti dia.

“Siwon ah!! Jawab aku apa itu kau?”

“maaf.. aku tidak bisa menjagamu dengan baik.”

“kenapa kau kembali?”

“Apa kau tidak ingin aku kembali?”

“harusnya kau tidak perlu kembali kalau hanya ingin menyalahkan diri sendiri. Kau selalu menyalahkan dirimu kalau aku terluka. Bodoh.”

“mianhe Eun Jae ah.mulai sekarang aku akan menjagamu dengan baik. Kau jangan terluka lagi.”

“hey aku ini kuat dan bisa menjaga diriku sendiri. Kau itu yang terlalu sensitive dan harus dilindungi.”

“hmm sepertinya kita hanya memenuhi ruangan disini, benar tidak Leeteuk ah?”

“sepertinya begitu, Yoon Na ah ayoo pergi cari udara segar.”

“eonni,oppa kalian mau kemana?”tanyaku.

“kami mau keluar sebentar, kalian mau pesan sesuatu?”

“tidak terima kasih”kali ini Siwon yang menyahut cepat.

Rasanya senang sekali bisa bicara lagi seperti dulu dengan Siwon, aku jadi sadar selama dia tidak ada aku sangat merindukan sahabatku ini. Aku menyesal telah menyuruhnya pergi dan melukai hatinya. Dia menceritakan kegiatannya diluar kota saat menghilang, sekarang dia bekerja parttime disebuah café sebagai penyanyi dan bermain gitar juga.

Kemudian tak berapa lama ada yang datang.

“Annyeong, Eun Jae ah!!”

“hey kau, bagaimana bisa disini”Siwon berseru.

“Ya! Siwon ah, kau yang bagaimana bisa berada disini? Memangnya kapan kau kembali kesini?”

“aku tiba tadi malam. Ini Eun Jae sahabat baikku. Kau juga mengenalnya?”

“oh begitu rupanya. Aku juga baru mengenalnya dan kami berteman baik.”

“Yesung ssi, kau juga disini?”

“ya, ini aku. Kau baik-baik saja?”

“ya aku sudah lumayan baik. Tapi perban dimataku ini sangat mengganggu sekali aku jadi tidak bisa melihat wajah kalian.”aku tertawa.

Keadaan jadi hening, apa aku salah bicara? Atau mereka terlalu canggung.

“Ya!! Kenapa kalian jadi terdiam seperti ini?”

 

Choi Siwon

 

Aku tidak bisa menahan diri, bagaimana kalau sampai dia tau meskipun perban itu dibuka dia tetap tak akan bisa melihat dunia ini. Aku baru akan mengalihkan pembicaraan saat dokter datang menghampiri kami disusul Leeteuk Hyung dan Yoon Na noona.

“selamat sore Eun Jae ssi..”

“apa itu dokter?”

“iya. Aku akan membuka perbanmu hari ini.”

“wahh benarkah. Benda ini memang sangat mengganggu, tolong segera dilepaskan aku ingin bisa melihat.”

“baiklah kami akan membukakannya segera, tapi setelah itu kita harus bicara.”

“ok dokter” Eun Jae tersenyum. Ya Tuhan itu menyakitiku.

Detik-detik ini sangat menyiksaku, aku terus menggenggam tangannya selama suster membuka perban dimatanya.

“Siwon ah, kenapa tanganmu dingin sekali?”

“huh?? Begitukah?”

“iya, biasanya kalau begitu kau sedang tertekan ya? Memangnya apa yang sedang kau pikirkan?”

“engg tidak apa-apa, ac nya terlalu dingin.”

“Eun Jae ssi tolong jangan bicara dulu” tegur suster.

Dia hanya meringis nakal seperti biasa.

“nah sudah selesai, Eun Jae ssi tolong buka matamu perlahan-lahan saja.”

Aku tidak tahan, aku ingin pergi dari ruangan ini. Aku takut melihatnya terluka, Eun Jae ah apakah kau bisa menerima semuanya? Apakah kau akan kuat dengan apa yang akan mereka katakan padamu?

“dokter, kenapa masih gelap ya?”

“Eun Jae ah, apa tidak ada cahaya apapun yang bisa kau lihat?”

“tidak ada dokter. Memangnya kenapa ini? Ada apa dengan mataku?”

“Eun Jae ssi, saat kecelakaan itu serpihan kaca melukai matamu. Sehingga kemungkinan kau kehilangan penglihatanmu. Maafkan saya karena harus mengatakan berita buruk ini padamu. Tapi saya harap kamu jangan putus asa Eun Jae, tegarlah.”

Dokter menepuk bahu Eun Jae lalu meninggalkan kami dalam keheningan yang menyiksa. Lalu tiba-tiba Eun Jae mengibaskan tanganku dengan kasar.

“kau sudah tau kan? Karena itu tanganmu dingin. Kalian semua pasti sudah tau juga kan? Kenapa??? Kalian merahasiakannya padaku!!!!”

“Eun Jae ah, waktu itu dokter baru memberitahu kemungkinan saja, jadi kami tidak bisa memberitahukanmu. Kami berpikir dokter bisa salah.” Yoon Na noona mencoba bicara.

“tinggalkan aku sendiri.”katanya datar.

“Eun Jae ah biarkan aku disini bersamamu”ucapku.

“aku mau semuanya pergi. Biarkan aku sendiri.”

Aku hanya bisa menuruti keinginannya, karena Eun Jae memang butuh waktu sendiri untuk menumpahkan kesakitannya. Hyung dan noona menarikku keluar begitu juga dengan Yesung. Dari luar aku hanya bisa melihatnya menundukkan kepala, bahunya berguncang karena tangisan. Eun Jae tidak suka orang lain melihatnya menangis karena itu dia menyuruh kami keluar.

Hampir tengah malam, Eun Jae masih tak mengijinkan siapapun masuk. Tapi aku tidak bisa terus duduk diam, akhirnya aku masuk dan duduk disisi ranjangnya.

“apakah dunia akan berakhir sekarang?” ucapku.

“apakah kau masih bisa hidup tanpa bisa melihat dunia ini?” jawabnya dengan pertanyaan.

“siapa yang peduli, kau bisa kehilangan apapun, tapi jika kau masih punya orang yang dicintai maka semua tidak akan ada artinya.”

Eun Jae hanya diam, airmatanya terus mengalir meski tanpa suara.

“apakah hanya penglihatan yang bisa membuat kita bahagia?”tanyaku.

“lalu apa artinya bahagia bila kita tak pernah bisa melihat wajah orang yang kita cintai?”

 

Sudah seminggu sejak aku terakhir kali bicara pada Eun Jae. Sejak saat itu dia tak bicara pada siapapun. Dia seperti tenggelam dalam dunianya sendiri tanpa menghiraukan orang disekitarnya. Tapi hampir setiap malam aku melihatnya menangis dalam diam dari balik pintu kamarnya.

“hyung, sampai kapan akan membiarkannya seperti ini?”

“teruslah disampingnya, aku yakin dia pelan-pelan akan mengerti.”

“Eun Jae orang paling keras kepala yang pernah ku kenal.”

“Leeteuk ah !!! tolong!!! Siwon ah!!!” teriakan Yoon Na panic dari dalam kamar Eun Jae.

Aku dan hyung bergegas menuju kekamar, diranjang tidak ada orang. Tapi teriakan berasal dari dalam kamar mandi.

“panggil dokteerrr !!!!” Yoon Na berseru.

Aku hanya bisa membeku shock pada apa yang kulihat, Yoon Na sedang memangku tubuh Eun Jae yang lemas dengan tangan berlumuran darah. Dia baru saja mencoba mengakhiri hidupnya.

Aku masih tak percaya, kini aku hanya berdiri disudut kamar sementara dokter dan suster baru saja menjahit luka ditangan Eun Jae.

Aku tiba-tiba saja berlari pergi, berlari sejauh yang aku bisa. Hingga akhirnya aku sampai dirumah. Aku duduk disisi tempat tidurku, disampingku bersandar sebuah gitar kesayanganku. Aku meraih gitar itu, lalu teringat sebuah lagu yang kuciptakan saat pelarianku dari Eun Jae. Aku ingin memainkannya sekali lagi. Kunyalakan sound recording untuk merekam lagu ini juga.

 

Park Jung Soo

 

Sudah cukup lama Siwon menghilang, entah kemana anak itu pergi. Aku mencoba menghubungi handphonenya tapi tidak ada jawaban. Lalu ku telpon kerumahnya dan tidak ada yang mengangkat. Aku berubah cemas saat esok paginya dia tidak juga muncul.

“Yoon Na, apakah kau melihat Siwon?”

“belum, aku belum melihatnya pulang. Tapi biar aku tanya ibu dulu apakah dia melihatnya pulang tadi malam ato pagi ini.”

“halo, Leeteuk ah..”

“ya aku masih disini. Bagaimana?”

“aneh, ibuku bilang dia pulang sore kemarin, tapi tidak ada tanda-tanda kalau dia keluar rumah. Bukankah itu berarti dia ada dirumah?”

“apakah ibumu tidak salah lihat?”

“tidak, ibu sangat yakin karena Siwon juga menyapanya saat dia kembali sore itu.”

“baiklah,kau tunggu disana. Aku akan segera kesana.”

Begitu mengakhiri telpon aku langsung berangkat menuju rumah Siwon, diteras depan Yoon Na sudah menunggu. Aku mengetuk pintu depan, tapi nihil. Kemudian Yoon Na memutar gagang pintu,ternyata malah tidak dikunci. Aneh sekali anak ini.

Aku masuk keruang tamu, masih tak ada tanda keberadaan orang dirumah ini. Lalu aku mengetuk pintu kamar Siwon sementara Yoon Na memeriksa dapur.

“siwon ah!!”aku mengetuk pintu. Tidak ada respon lalu aku mencoba membuka pintu,lagi-lagi tidak dikunci.

Ahh itu dia sedang tidur pulas di tempat tidurnya segera aku menghampirinya. Tapi ada yang aneh dengan wajahnya, terlihat begitu pucat.

Next on Part 6 Find the Dramatic ending 🙂

Advertisements

Author: Free_Soul

Just A Free Soul, seeking for peaceful in life. Love reading, Occasionally writing fanfics and RPG, Passionate in Music, I follow K-Pop, K-Drama, J-Dorama/Movie, Currently One Ok Rock fans, Medium level Otaku; mostly Soujo, secretly read BL manga too LOL Has obsession on Himura Kenshin and Sato Takeru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s