Ms Kim and The Alien

Just another WordPress.com site

What If … (Part 4)

Leave a comment

What If Chapter 4

Cast : Choi Siwon, Go Eun Jae, Park Jung Su, Kim Yoon Na, Yesung, Lee Hyuk Jae, Cho Kyu Hyun, Han Geng sensei, Hee Chul…

 

Park Jung Su

 

Aku putus asa, benar-benar putus asa harus bagaimana lagi menemukan Siwon. Aku merasa gagal melindunginya seperti janjiku padanya. Go Eun Jae, kau harus ingat kata-kataku karena aku tak pernah main-main dengan ucapanku. Menyakiti hati Siwon sama artinya mencari masalah denganku.

“Jung Su ssi, apa kau baik-baik saja?” Yoon Na yang sejak kemarin menemaniku mencari Siwon kini masih berada diteras rumah Siwon.

“panggil aku Leeteuk saja, Yoon Na ssi. Aku bingung harus kemana lagi sekarang. Sejak kecil dia tidak pernah jauh dari jangkauanku. Sekarang aku bahkan tak tau dia ada dimana.” Aku tak tahan lagi, mataku sudah kabur karena lapisan bening itu memaksa keluar, aku menangis.

“Leeteuk, jangan bagini. Kita harus berusaha lagi. Aku tau kau sangat sedih, Siwon bilang kau adalah malaikat dalam hidupnya jika hatimu sakit dia pasti ikut merasakannya. Dan aku yakin saat ini dia merasakan sakit dihatimu dan akan segera kembali. Percayalah.” Yoon Na tersenyum dan menyandarkan kepalaku dipundaknya. Entah bagaimana aku merasa begitu tenang di sampingnya, kata-katanya bagai air yang menyejukkan hatiku, dan aku tak tau berapa lama kami dalam posisi itu karena aku terlelap sesaat.

Saat aku membuka mata, kepalaku masih dipundak Yoon Na. dia sedang memegangi setangkai mawar putih yang mungkin digapainya disebuah pot diteras tempat kami duduk. Aku menegakkan tubuhku lagi dan Yoon Na tersenyum melihatku.

“apa kau merasa lebih baik?”tanyanya.

“aku pikir begitu.”jawabku.

Tiba-tiba hp ku bergetar disaku, aku segera mengangkatnya dari nomor asing.

“Halo… siapa ini?”tanyaku

“Hyung, ini aku.” Suara diseberang menjawab, Siwon. Aku segera menekan loudspeaker.

“Siwon ah ! kau dimana?? Kau tidak tau aku hampir gila mencarimu? Kau mau membunuhku?? Hah!! Naega papo!” aku berteriak emosi, Yoon Na mencoba menenangkanku.

“hyung, maafkan aku. Aku baru bisa menghubungimu. Hyung, aku tau kau marah. Aku menelpon untuk pamit, aku sudah putuskan untuk pergi dari  hidup Eun Jae. Kau jangan marah padaku, dan jangan merasa sedih atau mengkhawatirkan aku.”

“kau Bodoh !!! bagaimana bisa aku tidak memikirkanmu ha? Kenapa dikepalamu hanya ada Eun Jae, kau tidak memikirkanku, ibu dan ayahku?”

“hyung, bagaimanapun kalian adalah hidupku. Tapi biar kali ini aku putuskan sendiri apa yang harus aku lakukan.”

“Siwon, kalau berani lakukan itu maka jangan pernah panggil aku Hyung lagi !!”

“Hyung, kenapa berkata seperti itu. Hyung, apakah kau menangis?? Hyung…”

Aku sudah tidak bisa bicara lagi sekarang, Yoon Na mengambil hp dari tanganku dan mulai bicara pada Siwon.

“Siwon ah, ini Yoon Na noona.”

“ye noona, kau bersama Leeteuk hyung?”

“iya. Aku menemaninya mencarimu beberapa hari ini. Kau dimana? Leeteuk sangat khawatir padamu.”

Yoon Na berbicara cukup lama dengan Siwon, aku sudah tidak bisa mendengarkan lagi karena loudspeaker dinonaktifkan olehnya.

Yoon Na menyodorkan hp itu lagi padaku, aku menggelengkan kepalaku. Lalu dia memencet tombol loudspeaker lagi.

“Siwon, bicaralah. Dia mendengarkanmu.”

“Hyung, aku sudah menyakiti hatimu, membuatmu menangis maafkan aku. Aku benar-benar tidak berguna kan…”Siwon tertawa pahit “Hyung, kau harus tau aku sangat menyayangimu, lebih dari yang kau tau. Meski aku tidak bersamamu, kau akan tetap tau keadaanku dan aku pun begitu jadi jangan khawatirkan aku. Bila merindukanku tulis sebuah surat dan letakkan di depan pintu rumah dan aku akan membalasnya untukmu. Arasseo??? Selamat tinggal” klik telpon di tutup. Aku meraih hp dari tangan Yoon Na dan berteriak kesetanan

“Siwon !!! Hey kau bodoh jangan matikan telponnya dulu !! Siwooonnnn !!! Akkkhhh!!!!”

“Leeteuk!! Sadarlah, kau jangan seperti ini…” Yoon Na merebut hp dri tanganku.

 

Kim Yoon Na

 

……………….

 

“aku tau noona. Maaf telah merepotkanmu, tapi aku senang kau ada di sampingnya sekarang.”

“apa maksudmu?”

“Hyung sangat menyukai noona sejak dulu. Tolong jangan katakan padanya aku memberitahumu. Aku hanya tidak mau hyung menyesal sepertiku karena tak pernah punya keberanian menyatakan perasaannya. Noona, aku sangat menghormatimu, aku tidak berhak meminta apapun darimu hanya saja aku memohon sesuatu, bisakah kau mengawasinya untukku? Meski nanti kau tidak menyukainya, tapi jangan menyakitinya.”

“aku berjanji padamu. Tapi Siwon ah, haruskah kau pergi dengan cara seperti ini? Pikirkan orang-orang yang sangat menyayangimu.”

“ya, noona. Aku sudah memutuskannya. Noona, aku akan mengirimkanmu nomor telponku, tapi jangan beritahu pada Leeteuk Hyung. Aku ingin terus tau keadaan kalian dan memberi kabar pada kalian.”

“baiklah…”

“apakah hyung tidak mau bicara padaku?”

Aku menyerahkan hp pada Leeteuk, tapi dia hanya menggeleng lemah, akhirnya aku memencet tombol loudspeaker dan membiarkan mereka bicara. Leeteuk hanya diam sementara Siwon terus berbicara sendiri. Aku tak tahan mendengarkan semua ini, tapi aku tidak bisa menangis sekarang. Laki-laki didepanku ini begitu terluka hingga tak mampu bicara, apa yang harus kulakukan?

Siwon akhirnya mengakhiri panggilan itu, Leeteuk tersadar dan berteriak-teriak histeris pada benda kecil itu. Aku hanya bisa menariknya dalam pelukanku, airmataku akhirnya jatuh juga. Aku membiarkannya tetap begini hingga dia tenang.

“Yoon Na… “itu Kyu Hyun memanggilku dari teras rumahku.

Leeteuk melepaskan pelukannya dan menghapus airmatanya segera. Aku melambaikan tangan sekilas pada Kyu Hyun dan bangkit berdiri.

“Yoon Na, aku sebaiknya pulang.”kata Leeteuk lagi.

“Leeteuk, apa kau yakin bisa menyetir dengan baik saat ini?”tanyaku agak khawatir.

“aku sudah tidak apa-apa. Kau segera temui temanmu saja.”

“baiklah. Nanti aku akan menelponmu. Leeteuk, jangan lakukan hal bodoh” aku tersenyum padanya.

“tidak akan.”dia balas tersenyum meski senyum itu penuh dengan kesedihan yang dalam.

Setelah melihat Leeteuk berlalu aku segera menghampiri Kyu Hyun. Jelas wajahnya penuh tanda tanya sekarang.

“Yoon Na apa yang terjadi?”

“masuklah dulu. Aku akan cerita nanti di dalam dengan segelas teh.”

“baiklahh. Ini aku bawakan kue untuk bibi.”

“wah terima kasih Kyu….”

Aku memanggil ibu untuk menemani Kyu Hyun bicara sementara aku mandi karena sejak pagi hingga soree ini aku menemani Leeteuk badanku kelelahan.

“hey, terima kasih sudah menunggu, ayo mengobrol di belakang saja.”

“baiklah…”

Aku dan Kyu Hyun pindah ke teras belakang, menikmati udara sore dengan secangkir teh.

“apa yang terjadi, Yoon Na?”

“kau ingat Siwon?? Tetanggaku yang diseberang itu.”

“ya, anak itu sepertinya baik. Ada apa dengannya?”

“dia pergi dari rumah untuk menghilang dari hidup gadis yang dicintainya.”

“mwo? Waeyo?”

“gadis itu membencinya, karena satu kesalahan yang dia perbuat. Park Jung Su adalah sepupunya, mereka sangat dekat karena keluarganya merawat Siwon sejak bayi. Dia sangat terpukul, aku hanya membantunya.”

“kasian sekali dia. Apakah kesalahannya sebegitu besar hingga harus menghilang dari hidup gadis itu?”

“aku rasa tidak. Kesalahannya hanya untuk membahagiakan gadis itu dengan orang yang disukainya hanya saja caranya salah. Gadis itu sahabat baiknya, dia sangat mencintainya maka saat gadis itu minta dia menghilang dan dia pun mengabulkan permintaan gadis itu.”

“gadis itu keterlaluan sekali. Ya Yoon Na, apakah kau tipe gadis kejam seperti itu juga?”

“mwo?? Ya Kyu Hyun ah, kalau aku kejam kau sudah ku bunuh dihari kau mengkhianatiku !!”

“hahaha maafkan aku. Yoon Na jangan menyebut itu lagi, aku merasa bersalah seumur hidup karenanya.”

“haha aku hanya bercanda Kyu, jangan bicara itu lagi. Sekarang kita bersahabat dengan sangat baik kan.”

“ya kau benar, aku beruntung menemukan sahabat sepertimu.”

“dia menyukaiku…”

“mwo? Siwon?”

“Jung Su ssi…”

“benarkah? Darimana kau tau?”

“Siwon yang bilang padaku.”

“wahh, lalu bagaimana perasaanmu?”

“Kyu Hyun ah, apa kau masih ingat ceritaku tentang seseorang yang 3 bulan ini aku perhatikan dari jauh?”

“ya, aku ingat. Mwo? Jangan bilang kalau laki-laki itu…”

“ya, dia sepupu Siwon yang sering mengunjunginya. Setiap kali dia datang dan tersenyum menyapa Siwon, aku tak bisa melupakan wajah itu. Tapi aku tak punya keberanian untuk bertanya pada Siwon.”

“Yoon Na, kau jatuh cinta padanya. Ya ampunn ini keajaiban, kita harus merayakannya…”

“Kyu Hyun ah kau ini. Saat ini bukan waktu yang tepat. Aku tidak sanggup melihat dia seperti itu. Aku ingin berada di sampingnya dan terus menyemangatinya saat dia terpuruk..”

“waahh ini akan jadi kisah cinta yang romantic… hahaha”.

Seperti itulah Kyu Hyun ssi, dia adalah mantan pacarku. Bagaimana kami bisa jadi sahabat? Rumit sekali ceritanya, yang pasti sekarang hubungan kami jauh lebih baik setelah konflik cukup panjang. Rasanya senang sekali telah menemukan ikatan yang tepat untuk kami berdua.

Ahh sekarang Leeteuk memenuhi pikiranku, apa yang dia lakukan saat ini, hmm aku jadi ingat tadi aku bilang akan menelponnya. Aku meraih hp ku dan mendial nomornya.

“halo…”jawab suara diseberang, kenapa wanita?

“halo, ini benar nomor Leeteuk?”tanyaku ragu.

“iya benar. Saya ibunya.”

Ahh lega mendengarnya

“oh maafkan saya. Ini Yoon Na, saya hanya ingin menanyakan keadaan Leeteuk.”

“oh Yoon Na. saat ini keadaannya eeteuk sedang tidak baik. Dia sedang tidur setelah diperiksa dokter.”

“apa? Jadi dia sakit apa, tante?”

“dia kelelahan dan stress, jadi harus istirahat beberapa hari.”

“tante, apa saya boleh menjenguknya?”

“tentu saja boleh, Yoon Na. silahkan datang, eeteuk pasti senang ada yang menjenguknya.”

“baiklah tante, terima kasih banyak.”

“sampai jumpa Yoon Na.”

“nde…”

Aku bertambah khawatir jadinya, Leeteuk kenapa kau jadi seperti ini.hmm aku segera menghubungi Kyu Hyun malam itu dan memintanya mengantarku kerumah Leeteuk.

Saat tiba disana, ibunya membukakan pintu dan menyapa kami dengan senyuman yang ramah, sekarang aku tau dari mana asal senyum Leeteuk itu.

“ini Yoon Na?”

“ya tante, saya Kim Yoon Na, ini sahabat saya Cho Kyu Hyun”ucapku sembari membungkukkan badan begitu juga dengan Kyu Hyun.

Lalu ibu Leeteuk membawa kami ke kamar Leeteuk, aku jadi gugup sekali. Aku melirik Kyu Hyun di sampingku. Rupanya dia sadar perasaanku dan tersenyum jail padaku. Aku melotot padanya eh dia malah menjulurkan lidah.

Saat masuk kekamar itu, hatiku terasa  berbeda, kamar ini begitu nyaman. Semua barang seakan menempatkan posisi sesuai perintah pemiliknya. Paduan warna antara dinding dan benda-benda diruangan ini sangat mengesankan, Leeteuk orang kaya pasti semua diatur oleh designer bagus. Tapi aku tidak bisa merasa kagum lagi saat melihat tubuh lemah itu terbaring diatas tempat tidur. Wajahnya terlihat polos, tapi begitu kelelahan. Aku sedih melihatnya.

“ibuuu, apa itu kau??”

“iya, ini ibu bersama teman-temanmu.”

“temanku?” Leeteuk mencoba menegakkan tubuh hingga posisinya duduk tegak sekarang. Wajahnya agak kaget saat melihatku.

“Yoon Na ssi, apa yang kau lakukan disini?”

“tadi aku menelponmu, tapi katanya kau sakit jadi aku minta Kyu Hyun untuk mengantarkanku kemari.”

“annyeong, Jung Su ssi. Apa kabar, kita bertemu lagi.”

“Kyu Hyun ssi, terima kasih sudah mengantarkan Yoon Na. harusnya kalian tidak perlu kemari, ini sudah malam kan.”

“Jung Su ssi, sebenarnya aku sudah bilang pada gadis ini untuk datang saja besok, tapi dia sudah terlalu panic hingga memaksaku mengantarnya. Hehehe” aishh Kyu Hyun awas kau.

“panic? Kau panic karena aku sakit? Waeyo?”

“Tentu saja panic, tadi waktu dari rumah Siwon kau baik-baik saja lalu sekarang kau sakit.” Kilahku.

“jeongmall?” Kyu Hyun mengedipkan mata.

“ya!! Kyu Hyun ah bisakah kau keluar saja? Leeteuk sedang sakit, dia bisa gila kalau terus mendengar ocehan bodohmu itu!”

“hey, kau yang berteriak sekarang. Jadi sebenarnya siapa yang mengganggu? Benar tidak Jung Su ssi? Hahaha”

“hehehe…” Leeteuk tertawa kecil. Aku senang sekali melihat lesung pipinya.

“baiklah aku sebaiknya keluar saja dan menggoda ibumu Jung Su ssi. Tapi apakah ayahmu ada?”

“hahaha, silahkan Kyu Hyun ssi. Ayahku sedang bekerja di luar kota.” Leeteuk tersenyum makin lebar, dan melambaikan tangan pada Kyu Hyun yang keluar kamar.

“kau sudah baik-baik saja?”tanyaku.

“aku selalu baik saja. Ibu saja yang terlalu khawatir padaku.” Jawabnya

“Leeteuk, kau boleh bicara padaku bila ada yang mengganggu pikiranmu. Bukankah sekarang kita sudah berteman?”

“gomawo, Yoon Na ssi. Sebaiknya kau pulang, ini sudah larut malam.”

“hmm baiklah, tapi apa besok kau akan berangkat sekolah?”

“tentu, aku ada ulangan dan bimbel menjelang ujian akhir.”

“aku akan mengantarmu, bagaimana?”

“waeyo? Kau kan juga harus sekolah, tidak perlu mengantarku..”

“kau itu masih belum sembuh benar. Karena jalan kita searah jadi aku bisa menjemputmu”

“kau ini aneh sekali. Baiklah, tapi setelah aku sembuh, aku yang akan gentian mengantarkanmu. Setuju?”

“setuju! Aku pulang dulu sampai jumpa besok.” Aku menghampiri Leeteuk dan memeluknya sekilas untuk mengucapkan selamat malam lalu pulang bersama Kyu Hyun.

 

Park Jung Su

 

Hari ini perasaanku sedikit lebih baik, setidaknya emosi dalam hatiku berkurang. Aku sudah siap berangkat kembali ke sekolah hanya tinggal menunggu supir pribadi cantikku datang.

“hay… pagi juga kau datang.” Sapaku.

“tentu saja, ayo cepat sebelum jalanan macet.”

“siapp”

Yoon Na hari ini berbeda mungkin karena ini pertama kali melihatnya dengan seragam. Dia lebih terlihat manis.

“Yoon Na, apa Kyu Hyun ssi tidak mengantarmu?”

“tidak. Dia kan menjemput Lizzy. Lagipula aku selalu pergi sendiri koq.”

“Lizzy?”

“iya, itu pacar barunya. Murid baru dari Australia.”

“tapi bukankah kalian teman dekat?”

“tentu saja kami sangat dekat. Hanya saja hubungan itu bukan lagi hubungan percintaan seperti perkiraanmu.”

“tapi aku tidak mengira begitu.”

“benarka? Tapi kenapa wajahmu memerah Leeteuk ssi?”

“ya! Kau mengejekku. Hey sudah sampai, terimakasih sudah mengantarku.”

“never mind. Leeteuk, ini bekal untukmu. Jangan sampai lupa memakannya.”

Aku tertegun. Yoon Na membuatkanku bekal? Bukankah itu hanya ada dalam bayanganku saja selama ini?

“Leeteuk ! kenapa malah diam? Ini cepat ambil.”

“gomawo Yoon Na ah. Aku pasti akan menghabiskannya.”

Yoon Na meneruskan perjalanan kesekolahnya sambil melambaikan tangan padaku. Aku memandang kotak bekal itu. Perasaanku bercampur aduk. Aku bahagia karena bisa mengenal Yoon Na, tapi disisi lain hatiku sakit karena teman berbagi cerita bahagia itu pergi entah kemana. Siwon ah, harusnya kita bisa berbagi bekal ini, bekal pertama buatan Yoon Na untukku.

Aku berjalam menyebrangi lapangan basket menuju tangga ke lantai 2. Saat itu aku melihat gadis itu sedang duduk dibangku koridor kelas satu, bicara dan tertawa dengan temannya seolah semua baik-baik saja. Tapi lihat saja Go Eun Jae, aku bersumpah mulai hari ini kau akan berhenti tertawa.

 

Go Eun Jae

 

Sudah satu minggu sejak hari itu aku tak lagi melihat Siwon maupun Jung Su oppa di sekolah. Ini lebih bagus buatku, setidaknya luka hatiku lebih cepat sembuh. Tapi hari ini satu nama muncul. Pagi ini aku melihat Jung Su oppa datang kesekolah. Dia berjalan melewati lapangan basket dengan langkah santai tapi seperti ada beban dipundaknya. Wajahnya juga terlihat pucat, dia bahkan tidak tersenyum saat teman-temannya menyapa. Lalu apa peduliku??

“Eun Jae, apa kau tahu berita baru?”

“mwo?”

“Siwon mengirimkan surat pengunduran diri dari sekolah pagi ini.”

“jangan bercanda kau Hee Chul. Mana mungkin dia mengundurkan diri.”

“ya! Kau ini, bukankah kalian sahabat tapi kau malah tidak tau apa-apa.”

“dia sudah bukan teman apalagi sahabat. Bagiku dia sudah mati!”

“ya Eun Jae, kau keterlaluan sekali menyumpahi sahabatmu.”

“sudahlah! Aku mau ke perpustakaan dulu.”

Diperpustakaan aku malah memikirkan berita dari Hee Chul tadi. Dari dulu aku tahu dia suka bertindak bodoh, tapi tidak menyangka kali ini akan lebih bodoh lagi. Hanya karena ku suruh menghilang dia malah benar-benar melenyapkan diri. Dasar bodoh.

Aku kembali kekelas karena bel masuk kelas sudah berbunyi. Hm setelah ini ada presentasi essai Biologi untung saja aku sudah mengerjakannya.

“selamat pagi anak-anak”

“selamat pagi Han Geng sensei”

“baiklah, pagi ini kita akan mengadakan presentasi berdasarkan essai yang sudah kalian buat. Sekarang ayo kumpulkan essainya di atas meja.”

Aku segera membuka tasku untuk mengeluarkan tugas itu, tapi aku tak menemukannya. Aku membongkar isi tasku lagi dan juga laci tapi essai itu tetap tidak ada juga.

“Eun Jae, kau kenapa?” Tanya HeeChul yang sekarang jadi teman sebangkuku.

“essaiku hilang. Aku sudah mencarinya tapi tidak ketemu.”

“apa kau sudah mengerjakannya?”

“tentu saja! Tadi malam sudah ku masukkan kedalam tas. Kenapa sekarang malah tidak ada.”

“Go Eun Jae ssi, apa ada masalah?” Han Geng sensei menegurku.

“ehmm itu  begini sensei, essaiku hilang. Tapi aku bersumpah sudah mengerjakannya dan meletakkannya dalam tasku.”

“jadi?”

“jadi sekarang entah bagaimana dia hilang.”

“berdiri disana!”Han Geng sensei menunjuk keluar kelas.

“tapi sensei, saya sungguh” telah mengerjakannya.”

“kau tidak dengar? Tunggu di sana !”

“baik, sensei.”

Aku menyeret langkah dengan kepala tertunduk berdiri didepan koridor kelas. Aku malu sekali. Han Geng sensei guru idolaku. Dia sensei paling tampan disekolah. Semua tugas darinya selalu kukerjakan sesempurna mungkin hanya agar dapat melihatnya tersenyum dan memberikan pujian padaku. Ahh melantur apa itu barusan.

“baik anak” saya akan memberikan waktu 10 menit untuk menyiapkan diri sebelum saya panggil salah satu dari kalian” Han Geng sensei lalu menghampiriku.

“Go Eun Jae ssi, ayo ikut saya. Kita lihat hukuman apa yang bisa diberikan padamu.”

Aku berjalan mengikuti sensei dengan kepala tetap tertunduk. Tiba-tiba kami berhenti didepan kolam air mancur kecil ditengah taman sekolah.

“nah lihat itu, tolong kau bersihkan kertas-kertas itu dari dalam kolam. Saat aku kembali setelah pelajaran selesai aku mau kolam ini sudah bersih. Mengerti??”

Aku mengangguk. It’s totally disaster !! dengan kesal aku mulai membersihkan potongan kertas-kertas dari dalam kolam. 3 jam aku memastikan kolam itu bersih dari kertas-kertas sialan itu. Hingga saat tinggal selembar kertas utuh tersisa menyentakku. Itu adalah cover essaiku tentu aku sangat hafal. Aku seperti kesetanan mengacak-acak potongan kertas basah yang sudah kupunguti tadi. Tentu saja, itu benar-benar potongan essaiku. Aku terduduk lemas dipinggir kolam. Siapa yang dengan tega melakukan ini padaku??

 

Park Jung Su

 

“halo.. Hee Chul”

“ne, hyung. Sudah beres semua.”

“jeongmal? Lalu bagaimana reaksinya?”

“dia Cuma bisa duduk lemas dipinggir kolam. Bayangkan saja wajah bodohnya saat memunguti kertas-kertas itu yang ternyata serpihan-serpihan essainya sendiri.”

“haha pasti menarik bisa melihatnya sendiri ya.”

“aku siap membantumu,hyung. Kau tinggal menelpon aku saja”

“tentu. Hey malam ini kita makan di Plateu “

“baiklah,hyung. Terimakasih.

Hari ini cukup begitu saja dulu, ini baru pemanasan Go Eun Jae. Kau akan merasakan tiap detik sakitnya kehilangan saudara yang kurasakan.

 

Go Eun Jae

 

Hmm akhirnya hari Minggu juga aku bisa bersantai. Pagi-pagi aku sudah mempersiapkan peralatan pancingku. Hari ini aku ingin memancing dan melupakan semua kekesalan di otakku.

Setelah kejadian essai biologi, besoknya seragam PE ku berkibar dilapangan upacara, lalu kemarin kutemukan kecoa berkerumun keluar dari dalam tasku. Aaakkkhhh !!! oknum macam apa yang dengan brutal telah merenggut hari-hariku yang harusnya menyenangkan.

“hai…”

“siapa lagi sih?? Mengganggu orang tidur sa…”

“Yesung ssi !! ternyata benar kau. Ini aku Go Eun Jae, masih ingat?”

“oh kau rupanya. Sedang apa kau disini?”

“tenrtu saja memancing, masa menguras danau?”

“ya memang sebaiknya kau menguras danau ini lalu ganti dengan air yang lebih jernih agar aku lebih mudah menangkap ikan disini.”

“ya! Yesung ssi, tidak sopan sekali kau ini. Masa bicara pada gadis cantik seperti itu. Maafkan adikku yang tidak tau sopan santun ini nona.”

“Eun Jae ssi ini kakak laki-lakiku Lee Hyuk Jae. Hyung ini temanku Go Eun Jae.”

“annyeong Hyuk Jae oppa.”

“ennyeong Eun Jae ssi. Namamu begitu familiar ditelingaku hmm.”

“ya Hyung, kau bicara seperti itu pada semua gadis yang kau kenal kan?”

“Eun Jae ssi, ayo kita memancing bersama.”

“jangan! Hyung, kau tidak malu ya? Kau mengajak seorang gadis memancing bersama sementara kau membaca itu?” yesung menunjuk majalah ditangan hyungnya. Mataku langsung melotot lebar, aku menelan ludah.

“ya, Eun Jae ssi kita kesana saja.” Yesung berjalan mendahuluiku dan aku segera menyusulnya setelah menunduk sekedarnya pada Hyuk Jae oppa.

“yesung ssi, kenapa tidak memancing bersama hyungmu?”

“kau piker aku betah didekat hyung? Dia selalu saja bicara tentang gadis seksi dimajalahnya. Membuatku ingin muntah saja”

“haha… memangnya kau tidak suka gadis seksi ya? Kau ini tidak normal ya?”

“mwoya?? Ya! Eun Jae ssi, jangan bicara sembarangan.”

“hahhaha… aku kan hanya bertanya. Lagipula laki-laki macam apa yang tidak suka pada gadis seksi kalau bukan homo.” Tawaku makin menjadi membuat Yesung makin cemberut.

Akhirnya dia meraih sebuah gitar yang tadi disandarkannya dibelakang bangku dan mulai memainkannya. Jari-jarinnya lincah sekali dalam memainkan senar mengingatkanku pasa Siwon. Dulu dia selalu memainkan gitar dan menyanyikan sebuah lagu saat aku merasa sedih dan kesal. Hhmm Siwon ah, sebenarnya kau menghilang kemana? Ya! Go Eun Jae, apa kau merindukan pecundang bodoh itu? Biar saja dia pergi, nanti juga pasti dia akan kembali sendirinya.

“Yesung ssi, apa kau pemain music?”

“ya, biasanya aku dan seorang sahabat baikku bermain disebuah café kecil dipinggiran kota. Memang tempatnya tidak terlalu ramai tapi menenangkan.”

“benarkah? Apa kapan-kapan aku boleh kesana?”

“tentu saja.”

Begitu akhirnya kami berbicara tentang banyak hal. Yesung ternyata bukan orang yang kaku, bersamanya bicara dan tertawa terasa menyenangkan. Sampai aku tidak sadar hari telah menjelang senja.

“Yesung ssi, ikan hari ini tidak banyak hm. Aku harus pulang.”

“apa rumahmu jauh dari sini?”

“tidak koq. Aku kesini naik sepeda saja malah.”

“baiklah. Hati-hatilah dijalan. Biasanya jam segini banyak kendaraan lewat.”

“terima kasih sudah mengingatkan.”

Aku melambaikan tangan sambil berjalan menyebrangi jalan. Begitu bodohnya sampai tak menyadari apa yang akan menyambutku di sana…

 

Park Jung Su

 

Dia ada disana. Ditempat mereka berdua biasanya menghabiskan hari Minggu memancing. Tapi hari ini bukan Eun Jae dan Siwon yang kulihat. Dia sedang tertawa  dengan laki-laki lain dan sudah menggantikan tempat Siwon.

Go Eun Jae, begitu mudahnya kah menghapus sahabat yang mendukungmu sejak lama dari dalam hati dan pikiranmu? Sepanjang hari ku habiskan duduk mengawasi gadis itu. Otakku terus bekerja, apalagi yang bisa kulakukan untuk membuat gadis itu kesal, marah dan putus asa.

Akhirnya Eun Jae beranjak juga dari tempat itu, dia melambaikan tangan dengan senang pada laki-laki dipinggir danau itu. Begitu bodohnya sampai tidak melihat bahaya yang menjelang didepannya.

Aku menyaksikan semua dalam keterkesimaan saat sedan dengan kecepatan gila itu menghantam tubuh gadis itu hingga terlempar beberapa meter. Tanpa sadar aku berlari seperti orang yang kesetanan. Kupeluk tubuh lemah itu dengan erat, tak tau apa yang bisa kukatakan hanya meneriakkan namanya seperti orang gila, memohon agar matanya terbuka walau sebentar saja agar aku tau dia masih bernafas..

“Eun Jaeee !!! banguuunnn !! tolong buka matamu sedikit sajaaa!! Eun Jaeee, katakana padaku kau baik-baik saja!!!!………….

 

It’s 3.15am when I finished this Chapter haha…

Is it too long? I think so but don’t get bored to read it coz it’s so close to the end.

Keep stay tune coz Chapter 5 will coming soon.

 

Thanks to the special appearances

Han Geng sensei

Hee Chul ssi

Gamsahamnida …

 

As usual send you AngelTeuk Smile 🙂 …

Advertisements

Author: Free_Soul

Just A Free Soul, seeking for peaceful in life. Love reading, Occasionally writing fanfics and RPG, Passionate in Music, I follow K-Pop, K-Drama, J-Dorama/Movie, Currently One Ok Rock fans, Medium level Otaku; mostly Soujo, secretly read BL manga too LOL Has obsession on Himura Kenshin and Sato Takeru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s